Cahaya kuning keemasan yang cerah merekah, mengalirkan rasa hangat yang melompat-lompat di udara yang mendadak dipenuhi riuh gema pengeras suara beradu derak puluhan sepatu hak tinggi di atas marmer balairung kampus yang megah. Bau menyengat campuran parfum, keringat, semerbak bunga mawar segar, dan aroma cetakan map ijazah baru menyeruak hebat, membimbing sukma Hening ke sebuah siang yang meriah.
Di tengah lautan toga dan keriuhan ribuan wisudawan, Ranum berlari-lari kecil menembus kerumunan. Selendang cumlaude-nya melambai tertiup angin, sementara tangannya kewalahan memeluk dua buket bunga besar. Kain kebayanya yang agak sempit membuat langkahnya tergesa.
"Ibu! Teteh! Akhirnya bebas juga dari penderitaan ini!" seru Ranum heboh dengan wajah berpeluh, tapi matanya berbinar riang. Ia langsung menuding Hanum sambil tertawa lepas. "Teh Hanum, thanks banget ya jatah boba sama es kopi pemicu inspirasi revisi Bab 4. Tanpa dana hibah dari Teteh, aku mungkin masih mendekam di perpustakaan!"
Hanum terkekeh pelan seraya membetulkan posisi gendongan Iris yang menggemaskan dengan gaun putih berenda. "Enak saja dana hibah! Itu pinjaman, ya. Notanya masih Teteh simpan rapi di dompet. Nanti kalau kamu sudah dapat kerjaan, gaji pertama langsung Teteh tagih!"
"Aduh, Teh Hanum mah hitung-hitungan banget sih sama adik sendiri!" cerocos Ranum sambil memanyunkan bibirnya.
Tiba-tiba jemari mungil Iris meluncur cepat. Tangan kecil bayi itu secara tak terduga mencengkeram erat rumbai toga Ranum yang menjuntai di depan dadanya, lalu menariknya dengan sentakan gemas yang cukup kuat hingga topi toga Ranum ikut tertarik miring.
"Eh, Iris! Aduh Sayang, jangan ditarik! Topi Tante ini harganya empat tahun berdarah-darah tahu!" jerit Ranum panik tapi tertawa, berusaha melepaskan cengkeraman mungil keponakannya pelan-pelan.
Harum dengan sigap menyela, menarik bahu adiknya. "Kamu juga sih, gerak terus dari tadi! Nih kan togamu jadi melorot," omel Harum telaten merapikan toga dan lipatan kain di kebaya Ranum.
Rimbun yang memegang kamera langsung bersiap mengatur posisi. "Ayo-ayo merapat semuanya! Mumpung Iris belum rewel dan pencahayaannya lagi pas nih! Ranum, buket bunganya turunin dikit biar mukamu kelihatan."
Di sisi lain, Rindang berdiri tegak mengenakan kemeja batik. Ia berdiri kaku tanpa membawa bunga atau hadiah apa pun, tangannya bersedekap di belakang punggung dengan raut wajah yang datar dan hemat ekspresi.