Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #23

Penyesalan yang Meraung

Semburat pendar gading berbaur keemasan merebak. Siraman wangi untaian melati yang bersanding aroma kayu cendana langsung menyergap indra. Seketika, keheningan ruangan tua itu terurai, membawa sukma Hening melintasi gulungan waktu ke 34.

Di balik hamparan kain putih penutup meja akad, keremangan balairung berubah hening bagai tak berpenghuni. Seluruh pasang mata tertuju pada jemari Rindang yang saling bertaut kencang dengan jemari Tulus. Jakun Rindang naik-turun menahan luapan emosi yang terkurung rapat di balik raut kakunya.

Penghulu memberi isyarat halus. Rindang menarik napas panjang, mengumpulkan sisa ketegaran dari dalam jiwanya sebelum akhirnya menggemakan suara berat yang bergetar. "Saudara Tulus," ucap Rindang melantangkan ketegasan seorang ayah, "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Harum Sundari binti Rindang, dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan logam mulia sepuluh gram, dibayar tunai!"

Tanpa jeda dan tanpa goyah, Tulus menyambut genggaman itu. "Saya terima nikah dan kawinnya Harum Sundari binti Rindanf dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"

Seruan pengesahan dari para saksi bergemuruh memecah sekat ketegangan di udara, disusul lafal doa yang mengalun syahdu. Lampu-lampu hias melukis pendar indah di pelaminan saat mata Hening terbuka lagi. Harum tampak begitu memesona dengan pakaian pengantin tradisional dan ronce bunga melati yang harum. Usai akad nikah yang berlangsung khidmat, Harum berjalan mendekati Hening yang duduk di kursi besan.

Harum berlutut di pangkuan Hening, memeluk ibunya erat-erat hingga riasan di pipinya basah oleh air mata. "Ibu, terima kasih sudah jadi ibu terbaik buat Harum. Jangan bosan doakan rumah tangga Harum ya, Bu."

Hening membalas pelukan itu, membelai punggung Harum yang tersengguk pelan. Air mata yang bermuara di pelupuk mata Hening akhirnya tumpah, membasahi kain kebaya yang membungkus bahunya.

"Tanpa kamu minta, doa Ibu bakal selalu mengalir buat Harum. Jadi istri yang sabar ya, Nak. Saling pegang tangan kalau nanti ada badai," bisik Hening syahdu, merapatkan kecupan hangat di atas paes yang menghiasi dahi putrinya.

Tulus ikut berlutut di sebelah Harum, menangkupkan tangan memohon restu. Rindang mengulurkan jemarinya yang kasar, meremas bahu Tulus begitu kuat hingga pembuluh darah di punggung tangannya mencuat. Pelupuk mata sang ayah tampak menggenang air, kendati ia terus berusaha menegakkan dagunya. "Bapak titip Harum, ya," celetuk Rindang.

"Pasti, Pak. Tulus bakal jaga Harum sepenuh jiwa," janji Tulus.

Di pinggir panggung pelaminan, Ranum heboh mengibaskan kipas kain ke arah wajahnya sendiri, menahan tangis agar maskaranya tidak luntur. "Teteh Harum ih! Bedak mahal-mahal malah dibikin blepotan gitu!"

Harum terkekeh seraya menyapu sisa air mata di pipinya. "Kamu ini, Ranum. Lagi momen haru juga, malah sibuk ngurusin bedak!"

Hanum melangkah mendekat seraya memeluk adiknya, sementara Rimbun berdiri di sisinya sambil menggendong Iris yang sibuk meraih-raih ronce melati di kepala Harum. Jemari mungil bayi itu beberapa kali hampir mencabut kuncup bunga, memancing tawa kecil di tengah keharuan.

"Selamat ya, Harum. Kalau Mas Tulus macam-macam, bilang sama Teteh," tutur Hanum lembut, mengusap bahu sang adik.

Seorang fotografer profesional berrompi hitam melangkah maju di depan pelaminan, mengangkat kamera besarnya seraya memberi aba-aba. "Ayo, seluruh keluarga besar pengantin wanita silakan merapat ke tengah! Senyum semuanya, satu... dua... tiga!"

Rimbun merapat menuntun Hanum, sementara Ranum berdiri anggun di sisi kiri Harum. Kilatan cahaya flash menyambar berulang kali, diiringi desis pemicu lampu dan letup mekanis tombol kamera yang ditekan bertubi-tubi. Momen itu merangkum tawa, kehangatan, dan sisa air mata bahagia seluruh keluarga ke dalam satu bingkai sempurna.

Lihat selengkapnya