Urang Balunau

Harly B. Poetra
Chapter #2

BAB 1: KOKI AMATIR

Pak RT memanggil istriku, Isye, dengan tampang jijik. Ia terus-terusan berteriak sambil menunjuk gumpalan bening di pinggir-pinggir piringnya.

"BU! Ini warung jorok banget sih?! Masa kuah gulai ada lendirnya begini?! Ini ingus koki kamu, ya? Apa sabun cuci piring? PUIHH! Mana rasanya kayak sampo!" teriak Pak RT memecah heningnya warung makanan Padang yang mini ini.

Seketika itu juga seluruh pelanggan berhenti makan dan menatap jijik piring mereka masing-masing yang kebanyakan sudah sisa setengah porsi.

Satu per satu pelanggan melipir pergi, tak satu pun dari mereka yang sudi membayar. Kuperhatikan Isye hanya menunduk dan sedikit melirik bengis ke arahku. Kurasa dia sudah tahu penyebabnya.

Aku sudah kepalang basah.

"Lu c*li di dapur lagi ya, Jing? Norak tahu nggak lo? Terserah lo mau nonton bokep di mana, tapi gak di dapur gua juga!! Lihat tuh pengunjung gua kabur semua, bangsat!"

Yap! Benar, begitulah umpatan sangat "sopan" yang sudah sepuluh tahun kudengar dari istriku. Dia memang lebih tua dariku, dia juga lebih kaya, dan kurasa dialah yang memungutku usai luntang-lantung di Jakarta. Kurasa satu-satunya alasan aku menikah dengannya adalah agar aku bisa punya tempat menumpang di Jakarta.

Balik lagi ke masalah dapur hari ini.

"Ng-nggak sayang, sumpah! Ja-jadi tuh tadi tanganku melepuh kena minyak, nah kebetulan ada lotion di dekat dapur, ya sudah aku oles, ka-kayaknya ada yang tumpah tadi sedikit ke gulai," ucapku mencoba berbohong.

Ya, sebenarnya Isye sudah tahu tabiatku ini. Saat pertama kali, ia menangkap basahku sedang terbaring sambil "menonton" di kasur kami. Dia hanya diam, memaksaku minggir biar aku tidak mengotori kasur. Lalu ia lanjut tidur lagi.

"Lu pikir gua bego?! Pokoknya gua gak mau tahu, buang semua pelicin lu itu, gua gak mau ada benda itu di dapur, atau di sudut mana pun di warung gua."

Yap! Dia menghukumku untuk lembur membersihkan warung semalaman.

***

Keesokan paginya, aku mandi dengan baju seadanya yang sempat kutinggal di warung. Punggungku masih sakit karena tidur hanya beralaskan karung yang kugelar di tengah warung semalam usai kecapekan membersihkan "alat bantuku".

Warung benar-benar kosong hari ini, kurasa memang karena ulahku. Isye hanya terduduk diam di bangku kasir, sementara aku merapikan hidangan lauk, menata piring, mengelap meja, mengepel lantai. Ya, pokoknya semuanya aku yang kerja, karena memang kami berdua saja yang mengurus warung ini.

Tak lama, dua orang berpakaian dinas rapi datang menghampiri warung. Isye langsung berdiri. Sementara aku, kurasa memang akan ada masalah baru yang datang. Jadi seperti aku pada umumnya, kupilih untuk berjongkok di balik meja kasir, di belakang Isye, berharap tidak terlihat oleh dua bapak-bapak ini.

"Selamat siang, Bu! Kami dari Dinas Kesehatan. Kami dapat laporan bahwa di makanan ibu ditemukan kandungan yang diduga berbahaya. Jadi untuk sementara, ibu harus menutup warung ibu sampai pemeriksaan dari dinas selesai."

Lihat selengkapnya