Pagi-pagi sekali Isye membangunkan dan memaksaku untuk segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke bandara. Rasanya begitu malas bagiku untuk bangun, namun setelah membuka mata, aku melihat Isye tengah berdandan. Sementara di sisi lain, kulihat koper dan tas kami sudah rapi dan tinggal diangkut. Isye memang rajin bangun pagi, beda denganku yang entah mengapa belakangan ini punya pola tidur yang buruk.
Tak lama, usai mandi aku berpakaian sederhana, sementara Isye sudah berpakaian gemerlap; perhiasan di segala bagian, dan aroma parfum yang super berlebihan. Kami berangkat naik bus Damri dari terminal dekat rumah kami menuju bandara. Dilanjutkan perjalanan di udara selama dua jam yang kurasa tak penting untuk kubincangkan.
Tepat saat turun, benar saja, Isye tetap punya sisi tukang suruh di dalam dirinya. Aku disuruh untuk menunggu dan mengambil bagasi kami, sementara dia kulihat berfoto lalu hilang entah ke mana—mungkin ke kamar mandi atau sudah keluar duluan.
Setelah barang kami kurasa sudah terkumpul, aku membawanya dengan troli ke luar. Sementara kuamati, Isye tampak sedang berdiri di depan loket penyewaan mobil. Ya, kau tak salah dengar, dia menyewa mobil. Maksudku, bukannya menyewa mobil untuk berhari-hari akan sangat mahal, ya? Aku memang tak tahu berapa uang yang dikasih keluargaku, tapi apa tidak sebaiknya kita hemat? Tapi pertanyaan ini hanya berputar di kepalaku.
Aku memilih mengekor Isye, dan benar saja, dia memilih sebuah mobil Alphard keluaran baru yang kurasa tak perlu semewah itu. Terserah dia sajalah.
Isye mengendarai mobil itu, sementara aku duduk diam di sebelahnya, sesekali mencari dan memutar lagu-lagu pop kegemaran Isye. Aku masih takut untuk memutar lagu-lagu kesukaanku di depan Isye, takut dia malah tidak suka dan mencaci seleraku. Mobil itu berjalan cukup lambat menuju arah yang kurasa salah. Kurasa Isye juga tak semahir itu berkendara. Tapi kalau dibandingkan aku yang tak bisa menyetir mobil maupun motor, jelas dia menang telak.
"Ka-kayaknya arah kampungku bukan ke sini deh, Sayang."
"Sayang, kamu kan nggak bisa nyetir, mual pula. Udah, duduk manis aja ya, biar aku yang atur liburan kita," balas Isye membantah masukanku.
Benar saja, ini jalannya malah ke arah Bukittinggi.
Ia menepi dan parkir di sebuah hotel mewah dekat Jam Gadang, menyewa kamar yang kurasa terlalu besar untuk diisi kami berdua.
Usai aku merapikan seluruh barang kami di kamar itu, rupanya Isye sudah bergegas mandi dan berias kembali entah mau ke mana. Aku kemudian bertanya memangnya kita akan ke mana.
"Kamu istirahat dulu aja, Sayang, pasti capek, kan, perjalanan jauh? Aku mau keluar dulu sebentar."
Aku paham maksud ucapannya. Dia sebenarnya hanya ingin keluar sendiri dan tidak mau mengajakku—yang hanya akan mengekor dan mengganggu keseruan vakansinya. Ia keluar membawa tas mini yang sebenarnya KW itu, dan meninggalkanku pergi.
Aku yang sedari tadi merasa mual usai perjalanan jauh, memilih berbaring sebentar. Usai mualnya hilang, aku pergi ke balkon dan melihat pemandangan yang amat sejuk dan indah. Sialnya, aku cepat bosan. Usai memandangi pemandangan yang makin lama makin mendung, aku memeriksa HP dan menanyakan kata sandi Wi-Fi hotel ini.
Usai kusambungkan, nah, ini dia! Internet kencang ini yang kubutuhkan. Daripada kebosanan ini makin menggangguku, mending kumanfaatkan sinyal kuat ini untuk "bermain" sendiri. Palingan istriku juga akan lama pulangnya.
***