Urang Balunau

Harly B. Poetra
Chapter #4

BAB 3: HANTU BALUNAU

Hari semakin larut. Pesta adat yang sakral perlahan berganti menjadi pesta rakyat yang lebih cair. Musik orgen tunggal mulai berdentum di halaman luar, memecah kesunyian malam desa. Di kejauhan, kulihat sekelompok pemuda desa sedang tertawa-tawa di dekat panggung orgen tunggal. Di kaki mereka, ada beberapa botol kaca yang isinya jelas bukan air zam-zam.

Aku tidak tertarik dengar hingar-bingar yang begitu kontras ini. Kupilih menyingkir dari keramaian, menuju ke kamar mandi di belakang Rumah Gadang yang langsung menghadap pematang sawah. Aku butuh asupan yang lebih menarik, kurasa sudah seharian aku tidak dapat asupan. Kugenggam botol pelicin kecil yang sedari tadi sudah kukeluarkan dari tas, mencari kamar mandi yang pas untuk bermain sendiri malam ini.

Hingga sialnya, pria aneh di acara makan bajamba tadi menyapaku.

"Orang rantau dari kota yang gila, menurutku kau punya cara paling beda untuk cari dopamin, sini Tuan, temaniku merokok saja, daripada kau sendirian dalam kamar mandi jorok itu, seingatku kamar mandi itu sudah dari tadi sore tidak disiram."

Bagaimana dia bisa tahu aku dari rantau? Ah palingan diberitahu Angku, tapi gimana dia bisa tahu kalau aku ingin bermain sendiri di kamar mandi?

"Maaf maksudnya bagaimana, Tuan?" tanyaku mencoba mengelak, meski kurasa wajahku sudah memucat.

"Kau sedari tadi terlihat sudah gelisah dan berkeringat dingin, kuamati kau berjalan tergesa mencari kamar mandi yang tidak banyak orang di sekitarnya, sembari menggenggam ponsel dan botol lotion kecil. Sudah ini Tuan masih banyak rokokku," ucap orang ini memperjelas, sembari menyodorkan sebatang rokok padaku.

"Maaf aku tidak merokok, aku mau cari kamar mandi yang lain dulu saja," ucapku mencoba mengelak.

"Kau selalu merasa bersalah kan? Setiap usai menonton porno? Nah kalau rokok tidak Tuan, dia hanya merusak paru-parumu, tidak langsung membakar otakmu," ucapnya membalas mencoba mengguruiku.

Orang ini ternyata benar-benar orang yang cerdas, sekaligus menyebalkan. Ya sudahlah ketimbang harus berdebat panjang kuikuti saja maunya. Simpanan video yang kuunduh saat di hotel rasanya masih bisa menunggu.

Kuputuskan untuk bergabung dengan pria ini, yang sedari tadi sudah duduk bersila di teras belakang yang menghadap pematang sawah itu. Ia kembali menyodorkan rokok yang bentuk dan warnanya belum pernah kulihat sebelumnya. Kuputuskan untuk mencobanya, meskipun terbatuk parah beberapa kali karena sebelumnya aku tidak pernah merokok. Rasanya getir, tapi ajaibnya, lama-kelamaan setiap isapan memberikan ketenangan aneh di kepalaku. Ototku yang tegang perlahan mengendur. Setidaknya, ini menghalau dorongan kompulsifku ke kamar mandi tadi..

Angin malam di Solok menusuk tulang, membuat hamparan padi bergoyang-goyang seperti ombak hitam. Cahaya bulan purnama juga bersinar terang, jauh lebih terang dibandingkan saat di langit Jakarta.

"Namaku Saidi Serdula Sande, Sande, kalau anda pasti punya hubungan yang sangat dekat dengan Datuk, kan? Kelihatan betul tadi, saat Datuk menyebut satu-satu nama keluarganya, kau justru kelihatan kesal, sepertinya karena namamu tidak disebut kan?"

Aku sedikit terkejut dan menatap aneh orang ini, kenapa dia sebegitu memperhatikanku? Dia tidak gay kan? Sepertinya aku harus menjaga batasan dengan orang aneh ini.

Lihat selengkapnya