Mode AI
Satu. Dua. Tiga. Smile!
Lampu kilat dari kamera DSLR milik fotografer sewaan Papa menyambar wajah kami. Detik itu juga, aku memamerkan senyum terbaikku. Sudut bibirku terangkat sempurna, menampilkan deretan gigi yang rapi. Tangan kananku merangkul pundak Mama dengan lembut, sementara tangan kiriku bertumpu di atas paha dengan anggun. Di sebelah Papa, Rian berdiri dengan senyum tipis yang dipaksakan—setidaknya dia tidak memasang wajah sekaku tadi.
Kami berempat berdiri di depan dinding kaca rumah yang langsung menghadap ke taman belakang. Di luar, barisan pohon cemara hias bergoyang pelan ditiup angin sore, menciptakan latar belakang yang sangat estetik.
"Oke, bagus sekali! Satu gaya lagi ya, agak santai," seru fotografer itu dengan semangat.
"Mas, tolong ambil sudut yang kelihatan candid ya. Biar pas di-unggah ke Instagram kelihatan natural," instruksi Mama. Suaranya terdengar begitu manis, penuh dengan keceriaan seorang ibu rumah tangga yang bahagia.
Klik. Klik.
"Selesai! Terima kasih, Pak Arya, Bu Arini. Hasilnya langsung saya pindahkan ke laptop setelah ini," ujar si fotografer sambil membungkuk sopan.
Begitu fotografer itu berbalik, keajaiban langsung runtuh.