Suara bising di kantin fakultas hukum siang itu mendadak senyap selama beberapa detik saat aku melangkah masuk. Aku bisa merasakan belasan pasang mata langsung tertuju ke arahku. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari sejak aku menginjakkan kaki di kampus ini sebagai mahasiswa baru. Status sebagai "Dania Danendra"—anak dari pemilik salah satu firma hukum terbesar dan gurita bisnis properti di Jakarta—membuatku selalu menjadi pusat perhatian.
Aku membetulkan letak tas tote kulitku, tetap berjalan dengan dagu terangkat dan senyum ramah yang proporsional. Tepat seperti yang selalu Mama ajarkan sejak kecil: Jangan pernah terlihat lemah di depan umum, Dania. Kamu adalah representasi keluarga.
"Dania! Sini!" Citra, teman satu kelompokku untuk tugas hukum korporasi, melambaikan tangan dengan heboh dari meja pojok.
Aku menghampirinya, lalu duduk di kursi kayu yang agak berderit. "Hai, Cit. Maaf ya agak telat, tadi draf analisis kasusnya harus aku cek ulang dulu."
"Santai kali, Dan. Kamu mah selalu perfeksionis," Citra mengibaskan tangannya, lalu menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajahku. Layarnya menampilkan unggahan foto keluarga yang Mama pasang tadi malam. "Sumpah ya, semalam pas foto ini lewat di timeline gue, gue langsung iri maksimal. Nyokap bokap lo mesra banget, ya? Udah dua puluh lima tahun nikah tapi masih kayak pacaran. Bokap gue mah boro-boro, tiap hari kerjaannya berantem mulu sama Nyokap perkara uang belanja."
Jantungku berdegup satu kali lebih kencang. Efek obat penenang yang kuminum tadi malam sudah habis, dan rasa cemas itu mulai merayap kembali ke permukaan kulitku dalam bentuk keringat dingin.
"Ah, masa sih? Itu cuma pas di foto aja kok," jawabku, mencoba tertawa ringan untuk mencairkan suasana. Sebuah tawa hambar yang sudah terlatih.
"Tapi beneran, Dan. Lo tuh kayak punya segalanya. Cantik, pinter, anak tunggal kaya raya—eh maksudnya ada adek lo juga sih—terus keluarganya harmonis kayak di film-film. Kurang apa lagi coba hidup lo?" Citra terus mencerocos sambil menyeruput es teh manisnya.
Kurang apa? Kurang ruang untuk bernapas, Cit,
teriak batinmu.
Aku hanya tersenyum tipis, lalu segera mengalihkan pembicaraan dengan membuka laptop. "Yuk, kita bahas tugasnya lagi. Bab tiga analisis hukumnya masih ada yang kurang sinkron sama pasalnya."