V.R.R - Virasat Rumah Rubuh

stillzee
Chapter #5

Salah Paham Tingkat Dewa

​Sementara itu di ruang tamu, BangVan yang makan sendirian tampak menyipitkan mata ke arah ruang makan.

​"Ngomongin gue nih kayaknya. Bener-bener ini mah anak buangan gue. Nasib, nasib... Sofa, kamu mau perkedel nggak? Nggak mau ya? Ya sudah buat aku aja ya." BangVan tampak seperti orang aneh, makan sambil mengajak ngobrol sofa sendirian di ruang tamu yang sunyi.

​Kini di ruang makan hanya tersisa Abah dan Bunda yang masih kalut. BangVan melihat dari kejauhan kalau Abah mulai memegang kepalanya. Dia nggak tahu percakapan apa yang terjadi di sana, karena yang terdengar cuma suara tawa adik-adiknya yang tampak bahagia.

​BangVan yang sudah selesai makan segera bangun, mencuci piringnya di wastafel. Saat sedang membilas piring, tiba-tiba Abah bersuara.

​"Bang, nanti Abah ke kamar ya. Ada yang mau diomongin."

​"Iya, Bah," sahut BangVan santai.

​BangVan yang nggak tahu situasi tampak tenang. Dia berpikir, “Paling bilang jangan jailin adeknya bang, masa kamu tega sama adeknya. Abah aja nggak tega liat wajah ademu kalo lagi sedih.” Begitulah biasanya kalau Abah menegurnya karena menjahili Raka.

​Di kamar, Abah dan Bunda berdiskusi sejenak.

​"Bun, kalau si Abang beneran begitu, besok habis salat subuh kita ke Pak Ustad Rahmat ya. Kita minta ruqyah buat Abang," suara Abah bergetar, takut anaknya terjerumus bisikan setan.

​Bunda yang melihat kepanikan di raut wajah Abah malah merasa lucu. "Semua akan baik-baik saja sayangku. BangVan kan nggak nunjukin sikap ge... ge..."

​"Ge apa, Bun?" timpal Abah.

​"Apa deh Bah, yang itu Bah, yang gini..." Bunda menunjukkan gerakan tangan membetulkan rambut di sela kuping dengan centil. "Gemilang ya, Bah?"

​"Ohh... gemulai, Bun, itu namanya! Bukan gemilang."

​"Iya, itu kayaknya Bah. Maksud Bunda, kan Abang nggak kayak gitu dari kecil. Malah menurut Bunda, BangVan yang paling cowok sikapnya dibanding BangJer, Bah."

​"Ya sudah, Bun," Abah memegang tangan Bunda. "Doain anak tertua kita tidak seperti yang kita pikirkan. Abah mau coba tanya anaknya dulu."

​"Iya Bah, pokoknya Abah jangan emosi dulu ya."

Lihat selengkapnya