Jam baru menunjukkan pukul 03.50 subuh, tapi Abah sudah berdiri tegak di depan cermin sambil membetulkan sarungnya. Matanya sedikit merah, tapi semangatnya mengalahkan atlet lari maraton. Baginya, hari ini adalah misi penyelamatan nasional. Misinya satu: menjadi jemaah pertama yang menyalami Pak Ustad Rahmat sebelum shaf pertama terisi penuh. Abah tidak mau kecolongan; urusan "melenceng"-nya BangVan harus segera diselesaikan sebelum matahari terbit terlalu tinggi.
Di kamar sebelah, BangVan yang tadinya mendengkur halus tiba-tiba menggeliat gelisah. Mimpinya yang semula indah—memenangkan lotre dan membeli PS5—mendadak berubah menjadi horor yang sangat absurd. BangVan berkeringat dingin dalam tidurnya. Bagaimana tidak? Dalam mimpi itu, suasana tiba-tiba berubah menjadi prosesi ijab kabul. Yang bikin jantungnya mau copot, sosok mempelai perempuan di sampingnya ternyata adalah sofa ruang tamu yang memakai kebaya putih lengkap dengan kondenya!
Belum sempat BangVan sadar, semua perabotan di rumah tiba-tiba punya kaki dan tangan, lalu berteriak histeris meminta dinikahi. Kursi makan, lemari baju, sampai dispenser galon saling sikut dan berteriak, "Nikahi aku, BangVan!". Mereka menarik-narik tubuh BangVan ke sana kemari, berebutan siapa yang paling berhak mendapatkan BangVan sebagai suami. BangVan terjepit di antara pelukan dingin kulkas dua pintu dan tarikan maut meja rias Bunda, tanpa tahu bahwa di dunia nyata, Abah sedang menyiapkan "pasukan doa" yang taruhannya jauh lebih berat daripada sekadar menikah dengan mesin cuci.
Pagi itu, rumah keluarga "Rubuh" pun terasa lebih dingin dari biasanya. Aura serius terpancar dari Abah sejak ia melangkah keluar pintu rumah. Suara langkah kakinya yang terburu-buru seolah menjadi genderang perang di kesunyian subuh. Sementara itu, Bunda hanya bisa memandangi punggung suaminya dari balik jendela. "Berjuanglah, Abah," ucap Bunda pelan, seolah sedang melepas prajurit paling berani menuju medan tempur demi menyelamatkan martabat anak sulung mereka.
Abah yang seolah tahu kalau istrinya pasti sedang memperhatikan dari balik jendela, tiba-tiba berhenti sejenak. menoleh ke belakang, Abah mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan memberikan jempol yang mantap dengan senyum lebar , seolah memberikan kode kepada Bunda bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Misi suci ini harus berhasil!
•••
Setibanya di masjid, ternyata Pak Ustad Rahmat sudah ada di dalam, sedang mempersiapkan mikrofon untuk membaca Al-Qur’an.
"Assalamualaikum, Pak Ustad," ucap Abah lantang.
"Waalaikumsalam. Eh, tumben Pak sudah sampai sini?"
"Hehe, iya Pak Ustad," Abah menjabat tangan Pak Ustad erat. "Jadi begini... saya mau minta tolong sama Pak Ustad Rahmat."
"Minta tolong apa? Ngomong saja Pak. Duduk dulu biar nggak pegal," senyum Pak Ustad ramah sambil mengajak Abah duduk.
"Saya mau minta tolong Pak Ustad buat me-ruqyah salah satu anak saya."