BangVan tersentak bangun dengan napas memburu dan keringat sebesar biji jagung. Bayangan sofa berkebaya putih di mimpinya tadi terasa begitu nyata sampai ia harus meraba-raba sisi tempat tidurnya untuk memastikan tidak ada dispenser galon yang sedang mencoba menggandeng tangannya. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. Namun, sebuah firasat buruk tiba-tiba menyengat tengkuknya. Kenapa ia merasakan firasat yang aneh untuk hari ini?
Di kamar lain, BangJer dan Raka sudah terbangun lebih awal bukan karena rajin, melainkan karena mencium aroma masakan Bunda yang sangat niat pagi ini. Mereka berdua berdiri di koridor depan pintu kamar masing-masing sambil saling lirik. "Tumben Bunda masak banyak," bisik BangJer sambil mengucek mata. Raka hanya mengangkat bahu, namun telinganya menangkap suara Abah dan Bunda yang sedang berbincang seru.
BangJer dan Raka menghampiri orang tuanya di dapur, mempertanyakan ada apa gerangan sudah sangat sibuk di jam 05:30 pagi.
"Ada apaan Bun, kok masak banyak?" tanya Raka.
"Ini nanti ada Pak Ustad mau mampir, Ka," sahut Bunda santai.
"Tumben kok pagi-pagi buta begini mampirnya, Bun?" ucap BangJer curiga.
"Iya nggak apa-apa Bang. Udah Raka mandi gih, nanti telat sekolah. Ini hari Senin kan, upacara, Ka!" potong Abah cepat, tak ingin anak bungsunya tahu rencana sebenarnya.
"Yaudah..." Tak peduli lagi, Raka menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.
BangJer yang merasa ada yang tidak beres langsung mendekati Abah dan berbisik, "Ada apa, Bah?"
"Nggak apa-apa, nanti kamu juga tahu, Bang," jawab Abah, tak ingin memberitahu karena takut BangJer bakal berisik.
BangJer yang banyak akal langsung beralih mendekati Bundanya dan mengecup pipi sang Bunda. "Morning, Bun!"
Bunda yang langsung sumringah mendapatkan ciuman pagi dari anaknya yang paling imut itu pun langsung luluh. "Ih, tumben anak Bunda yang imut ini nyium Bunda..."
BangJer langsung memasang wajah polos andalannya dan langsung menembak rasa penasarannya. "Bunda kenapa masak sebanyak ini? Ada apa, Bun?"
"Pak Ustad bakal datang buat ruqyah BangVan nih!" jawab Bunda dengan senyum sumringah tanpa beban.
Abah langsung menepuk jidatnya. "Bunda mah malah dikasih tahu! Ntar BangJer berisik!"
BangJer yang kaget sontak menanyakan lagi, "Emang BangVan kenapa mau diruqyah, Bun?"
"Hehe... takut BangVan gay, Bang," bisik Bunda.
Tawa lepas dari BangJer meledak seketika, membuat Abah panik dan langsung mendorong badan anaknya itu untuk masuk ke kamar lagi. "Tuh kan, Bun! Dia berisik! Udah, Abang masuk dulu jangan sampai Raka tahu, nanti dia nggak mau sekolah malah mau lihat abangnya diruqyah!"
"Iya, iya... hahaha!" BangJer tertawa puas sambil menjauh.
Raka yang selesai mandi langsung masuk ke kamar untuk membereskan keperluan sekolah. Ia keluar dengan tatapan lesu khas anak sekolah yang malas berangkat di hari Senin.
"Abah, hari ini Raka nggak masuk lah yaaa..." ucapnya sambil melangkah lunglai menuju meja makan.