Selesai sarapan, Pak Ustad Rahmat tanpa basa-basi langsung mengajak BangVan untuk berbincang serius.
"BangVan, bisa ngomong berdua saja nggak sama Pak Ustad?" tanya Pak Ustad tenang.
"Lho, bisa Pak. Tapi ada apa ya?" jawab BangVan heran, perasaan waswasnya kembali muncul.
"Sudah, kita langsung ngobrol saja di kamar BangVan, yuk."
"Ini serius saya doang? Si Rojer nggak ikut, Pak?" BangVan melirik BangJer yang masih sibuk menahan tawa.
"Iya, Bapak maunya ngobrol berdua sama kamu. Ayo, sebentar saja kok," senyum Pak Ustad dengan ramah.
"Yaudah ayo Pak, ke kamar saya," BangVan menuntun Pak Ustad menuju kamar pribadinya. "Mari Pak, Bu, saya ngobrol dulu ya."
"Silakan, Pak," ucap Abah dan Bunda serempak, memberikan senyuman penuh harap yang malah membuat BangVan makin merinding.
•••
Sesampainya di dalam kamar, BangVan menyiapkan kursi belajarnya untuk Pak Ustad dan ia sendiri duduk di tepi kasur, menghadap sang tamu.
"Mari Pak, duduk di sini."
"Makasih ya, Bang," Pak Ustad duduk, lalu langsung membuka pokok pembicaraan. "Jadi begini, BangVan. Bapak datang karena keluhan Abahmu. Dia... curiga sama kamu."
"Curiga kenapa, Pak?" tanya BangVan keheranan.
"Iya, Abahmu bilang ke Bapak kalau kamu katanya suka sama laki-laki. Abahmu khawatir kamu melenceng dari ajaran agama, BangVan. Kamu jangan sungkan ya ngomong apapun ke Bapak. Jujur saja, biar Pak Ustad bisa bantu nyelesain masalahmu."
Mata BangVan membelalak. "Astagfirullah! Kata siapa saya suka laki-laki, Pak?!"
"Lho, Abahmu yang kasih tahu Bapak. Dia bahkan minta Bapak buat me-ruqyah kamu pagi ini. Makanya Bapak datang buat tanya dulu, benar apa tidak? Takutnya ada kesalahpahaman. Kamu bisa menyangkal kalau memang tidak benar, BangVan."
BangVan terdiam sejenak. Memorinya berputar ke kejadian tadi malam saat Abah menanyakan hal-hal aneh.
"Pantesan Abah semalam nanya aneh-aneh ke saya, Pak! Saya nggak demen sama laki-laki, sumpah demi Allah, Pak! Kepikiran buat suka laki-laki saja nggak pernah. Aduh, kok bisa sih Abah mikir kayak gitu?!" BangVan frustrasi sampai mengacak rambutnya sendiri.
"Nah, ini gunanya Bapak ngobrol dulu sebelum ruqyah. Memangnya kenapa kamu bisa bilang 'nggak bisa' sama perempuan, Bang?"
BangVan menunduk, napasnya terasa berat. "Saya cuma grogi Pak kalau diajak ngomong perempuan, bukannya nggak suka. Saya trauma.”
“Bapak boleh tau ga penyebab abang trauma apa?”