V.R.R - Virasat Rumah Rubuh

stillzee
Chapter #8

Luka

​Selesai sarapan, Pak Ustad Rahmat tanpa basa-basi langsung mengajak BangVan untuk berbincang serius.

​"BangVan, bisa ngomong berdua saja nggak sama Pak Ustad?" tanya Pak Ustad tenang.

​"Lho, bisa Pak. Tapi ada apa ya?" jawab BangVan heran, perasaan waswasnya kembali muncul.

​"Sudah, kita langsung ngobrol saja di kamar BangVan, yuk."

​"Ini serius saya doang? Si Rojer nggak ikut, Pak?" BangVan melirik BangJer yang masih sibuk menahan tawa.

​"Iya, Bapak maunya ngobrol berdua sama kamu. Ayo, sebentar saja kok," senyum Pak Ustad dengan ramah.

​"Yaudah ayo Pak, ke kamar saya," BangVan menuntun Pak Ustad menuju kamar pribadinya. "Mari Pak, Bu, saya ngobrol dulu ya."

​"Silakan, Pak," ucap Abah dan Bunda serempak, memberikan senyuman penuh harap yang malah membuat BangVan makin merinding.

•••

​Sesampainya di dalam kamar, BangVan menyiapkan kursi belajarnya untuk Pak Ustad dan ia sendiri duduk di tepi kasur, menghadap sang tamu.

​"Mari Pak, duduk di sini."

​"Makasih ya, Bang," Pak Ustad duduk, lalu langsung membuka pokok pembicaraan. "Jadi begini, BangVan. Bapak datang karena keluhan Abahmu. Dia... curiga sama kamu."

​"Curiga kenapa, Pak?" tanya BangVan keheranan.

​"Iya, Abahmu bilang ke Bapak kalau kamu katanya suka sama laki-laki. Abahmu khawatir kamu melenceng dari ajaran agama, BangVan. Kamu jangan sungkan ya ngomong apapun ke Bapak. Jujur saja, biar Pak Ustad bisa bantu nyelesain masalahmu."

​Mata BangVan membelalak. "Astagfirullah! Kata siapa saya suka laki-laki, Pak?!"

​"Lho, Abahmu yang kasih tahu Bapak. Dia bahkan minta Bapak buat me-ruqyah kamu pagi ini. Makanya Bapak datang buat tanya dulu, benar apa tidak? Takutnya ada kesalahpahaman. Kamu bisa menyangkal kalau memang tidak benar, BangVan."

​BangVan terdiam sejenak. Memorinya berputar ke kejadian tadi malam saat Abah menanyakan hal-hal aneh.

​"Pantesan Abah semalam nanya aneh-aneh ke saya, Pak! Saya nggak demen sama laki-laki, sumpah demi Allah, Pak! Kepikiran buat suka laki-laki saja nggak pernah. Aduh, kok bisa sih Abah mikir kayak gitu?!" BangVan frustrasi sampai mengacak rambutnya sendiri.

​"Nah, ini gunanya Bapak ngobrol dulu sebelum ruqyah. Memangnya kenapa kamu bisa bilang 'nggak bisa' sama perempuan, Bang?"

​BangVan menunduk, napasnya terasa berat. "Saya cuma grogi Pak kalau diajak ngomong perempuan, bukannya nggak suka. Saya trauma.”

“Bapak boleh tau ga penyebab abang trauma  apa?”

Lihat selengkapnya