V.R.R - Virasat Rumah Rubuh

stillzee
Chapter #9

Dilupakan

Ruang tamu yang biasanya riuh oleh suara TV atau adu mulut antara saudara, kini mendadak senyap. Sisa-sisa aroma nasi uduk Bunda masih tercium, namun suasananya sudah berubah total. Abah, Bunda, dan BangJer duduk melingkar, menatap BangVan seolah-olah pria itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja jika salah sentuh. Sekarang, setelah rahasia kelam masa SMP itu terbongkar, semua kepingan teka-teki tentang sikap BangVan yang selalu menghindar dari perempuan akhirnya terjawab. Tidak ada lagi tawa mengejek dari BangJer; yang ada hanyalah tatapan prihatin yang justru membuat BangVan merasa ingin menghilang ditelan bumi.

​“Jadi... gimana, Bang?” Abah membuka suara, memecah keheningan dengan nada yang sangat hati-hati, seolah sedang menjinakkan bom. “Abang benar-benar siap kalau kita antar ke psikolog sekarang? Abah nggak mau maksa, tapi Pak Ustad tadi benar, luka kalau didiamkan terus bisa infeksi, Bang.”

​Bunda mengangguk pelan sambil menggenggam tangan BangVan, menyalurkan kehangatan yang selama ini mungkin BangVan butuhkan tapi tak pernah ia minta. Sementara itu, BangJer yang biasanya menjadi kompor paling panas, kini hanya terdiam sambil memainkan ujung kaosnya. Ia ingin sekali melontarkan candaan untuk mencairkan suasana, tapi nuraninya berteriak memaki dirinya sendiri bila ia sampai mengeluarkannya ia adalah adik nurjanah. Saat ini BangVan tidak butuh lelucon, melainkan dukungan. Semua mata kini tertuju pada si anak sulung, menunggu keputusan besar dari seorang Van Albert yang selama ini paling jago bersembunyi di balik topeng keceriaannya.

BangVan menarik napas panjang, menatap satu per satu anggota keluarganya. "Ya sudah, ayo berangkat. Tapi ada syaratnya," ucapnya pelan.

​"Apa, Bang? Apapun Abah turutin! Mau ganti mobil? Mau beli PS 5 beneran?" sahut Abah dengan semangat yang terlalu berlebihan, mencoba menutupi rasa bersalahnya.

​"Enggak, Bah. Syaratnya cuma satu: Jangan ada yang nangis atau bertingkah aneh di depan psikolognya nanti. Malu, dikira kita satu keluarga yang butuh diobatin massal," jawab BangVan yang mulai kembali ke mode aslinya.

​Bunda langsung berdiri sigap. "Siap, Bang! Bunda siap-siap dulu ya. Tungguin Bunda pokoknya ya!" Bunda pun melesat ke dapur dengan kecepatan cahaya.

​Tak mau kalah, BangJer tiba-tiba mendekat dan mulai memijat-mijat bahu BangVan dengan sangat kencang. "Tenang, Bang. Gue bakal ada di samping lo. Kalo lo grogi liat perawat cewek, tenang aja, gue bakal comot kelopak mata lo trus gua gembok trus gemboknya gua makan!"

​"Jer, lo mending diem atau gue trauma liat muka lo juga?! garing banget eww" gertak BangVan, meski dalam hati ia merasa sedikit lega melihat adiknya kembali menyebalkan. Itu jauh lebih baik daripada melihat BangJer menatapnya dengan rasa kasihan yang berlebihan.

​Abah langsung berdiri menyambar kunci mobil. "Sudah, sudah! Ayo semuanya kita berangkat keluargaku !"

​Tepat saat Abah hendak membuka pintu, Bunda muncul kembali dengan napas tersengal. "Bunda sudah siapin semuanya diranjang, let’s go!" ucapnya lantang sambil mengangkat sebuah keranjang piknik besar, hanya bundalah yang mengetahui isi didalam keranjang tersebut. "Takutnya nanti di sana antri lama, jadi kita bisa piknik di ruang tunggu."

​BangVan menepuk jidatnya dengan keras. "Bun, ini namanya keranjang bukan ranjang, lagian kita mau ke klinik, bukan mau ke Ragunan!"

​Abah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keranjang Bunda yang sudah mirip logistik pengungsian. "Sudah, sudah, bawa saja daripada Bunda ngambek nggak mau ikut. Ayo Bang, kita berangkat biar aura keluarga terpandang kita nggak luntur gara-gara kelamaan nunggu!"

​BangVan hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik Bunda menuju mobil. Ia melihat Abah yang berjalan tegap layaknya jenderal, Bunda yang menenteng keranjang piknik besar, dan BangJer yang berjalan di belakangnya sambil sesekali menyemprotkan parfum ke udara di sekitar BangVan supaya "auranya positif".

​Dalam hati BangVan bergumam, “Kayaknya yang butuh psikolog bukan cuma gue, tapi satu rumah ini.”

Tanpa mereka sadari, ada satu sosok makhluk yang terlupakan. Dari angkasa bukan, dari bumi juga bukan. Dia adalah makhluk anomali yang akan mengguncang rumah.

••• 

Kreeett…. Suara pintu kaca klinik terbuka.

​"Assalamualaikum!" ucap Abah lantang, diiringi keluarga besarnya yang mengekor di belakang layaknya rombongan pawai.

Lihat selengkapnya