V.R.R - Virasat Rumah Rubuh

stillzee
Chapter #11

Satu Langkah Lebih Baik

tiga puluh menit telah terlewati, namun ruangan itu masih diselimuti keheningan. Sang psikolog tidak tampak terburu-buru sama sekali. Beliau duduk dengan tenang, menjaga jarak yang nyaman, sambil memperhatikan BangVan yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri.

​"Kak Van," sapa sang psikolog dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan yang menenangkan. "Tidak apa-apa jika Kak Van belum merasa nyaman untuk bicara sekarang. Saya tidak akan memaksa."

​Beliau meletakkan catatannya, memberikan perhatian penuh tanpa tekanan. "Apakah Kak Van sudah siap untuk mengutarakan apa yang sedang ada di pikiran Kak Van? Jika belum, tidak apa-apa sama sekali. Kita bisa duduk disini saja. Silahkan panggil saya jika Kak Van sudah merasa siap, saya tetap di sini menemani Kak Van."

​Kalimat itu seperti embusan angin segar bagi BangVan. Tidak ada tuntutan, tidak ada paksaan. Kesabaran dokter itu justru perlahan-lahan meruntuhkan tembok pertahanannya lebih efektif daripada pertanyaan apa pun. BangVan menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, lalu akhirnya menatap dokter itu dengan sungguh-sungguh.

​"Dok..." BangVan memulai dengan suara yang sedikit bergetar. "Saya... saya ingin bisa setidaknya tidak terlihat enggan bicara dengan perempuan. Saya tidak muluk-muluk ingin mencari pacar. Saya cuma ingin bisa mengobrol biasa, sekedar basa basi mungkin, tanpa harus merasa terancam."

​Ia meremas tangannya sendiri. "Bagaimana caranya supaya saya tidak langsung membangun tembok tinggi saat mereka baru menyapa? Saya ingin menghadapi mereka tanpa rasa takut yang berlebihan."

​"Keinginan Kak Van untuk bisa sekedar basa basi adalah langkah awal yang luar biasa. Itu artinya, Kak Van sudah ingin berdamai dengan keadaan," jawab sang psikolog lembut. "Untuk langkah awal, Kak Van tidak perlu memaksa diri untuk langsung mengobrol panjang atau menatap mata mereka. Fokuslah pada topik pembicaraannya, bukan pada sosoknya. Ingatkan diri Kak Van bahwa Kak Van memegang kendali atas situasi itu. Jika Kak Van merasa tidak nyaman, Kak Van punya hak untuk berpamitan secara baik-baik."

​BangVan mendengarkan setiap kata itu seolah sedang mengumpulkan kepingan teka-teki untuk memperbaiki dirinya sendiri. Ada rasa lega yang mulai mengalir, menggantikan sesak yang tadi menghimpit.

***

Kesabaran sang dokter perlahan membuahkan hasil. BangVan yang tadinya hanya mampu berbisik, kini mulai menegakkan punggungnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak sedang dihakimi. Ia tidak melihat tatapan mengasihani atau tatapan aneh, melainkan tatapan yang benar-benar mendengarkan.

​BangVan menyadari sesuatu di dalam hatinya. Selama ini, hanya ada dua perempuan yang ia izinkan masuk ke dalam zona amannya: Bunda dan Raka saja. Kini, psikolog di depannya ini resmi menjadi perempuan ketiga yang berhasil mendapatkan kepercayaannya.

​"Dok... sebenarnya bukan cuma itu kendala saya," ucap BangVan, kali ini suaranya terdengar lebih lancar dan mantap.

​Ia mulai menanyakan banyak hal yang selama ini mengganjal di hatinya. Tentang bagaimana jantungnya yang berdebar setiap kali mendengar tawa perempuan di tempat umum, hingga rasa takutnya jika ia dianggap tidak normal oleh lingkungan sekitarnya. BangVan mengutarakan satu per satu hambatan yang selama ini ia simpan rapat, dan setiap pertanyaan itu dijawab dengan penjelasan yang masuk akal dan menenangkan.

​Sesi yang semula terasa berat itu pun berakhir dengan suasana yang jauh lebih ringan.

“Kak Van sudah melakukan kemajuan besar hari ini hanya dengan berani bicara jujur," ucap psikolog itu sambil menutup catatannya. Beliau memberikan senyuman hangat yang tulus kepada BangVan. "Silakan dicoba dulu langkah-langkah kecil yang kita bicarakan tadi. Kita akan bicara lagi jika sudah ada kemajuan, atau kapan pun Kak Van merasa butuh teman bicara. Pintu saya selalu terbuka."

BangVan berdiri, merasa seolah satu beban batu di pundaknya baru saja dipindahkan. Ia menyalami sang psikolog dengan rasa hormat. Saat ia melangkah menuju pintu, ia merasa dunianya sedikit lebih luas dari sebelumnya.

Cklek.

Lihat selengkapnya