V.R.R - Virasat Rumah Rubuh

stillzee
Chapter #12

Ketenangan

​BangVan membuka pintu dengan sangat perlahan. Di sana, di atas sofa ruang tamu, tampak Raka sedang tertidur pulas. Suara TV menyala cukup besar, kontras dengan keheningan rumah. Namun, yang membuat mata mereka semua melotot adalah lantai ruang tamu. Semua action figure miliknya dan BangVan berjejer rapi, membentuk barisan panjang yang hampir menutup jalan.

​BangJer yang mengintip dari belakang langsung kaget setengah mati. Koleksi yang seharusnya tertata rapi di kamarnya, kini sudah pindah markas ke ruang tamu. Sesaat BangJer ingin berteriak, "YAAAAA—!"

​Tapi dengan sigap, BangVan langsung menyomot moncong bibir BangJer. "Diem! Ntar dia bangun," bisik BangVan tajam.

​Keluarga itu bernapas lega. Ternyata "bencana" yang mereka bayangkan hanya sebatas barisan robot dan pahlawan plastik di lantai. Abah dan Bunda mengucap alhamdulillah berkali-kali melihat rumah tidak sehancur yang dikira.

​BangVan memberi kode agar semuanya masuk dengan langkah mengendap-endap menuju kamar masing-masing. Ia menyuruh BangJer untuk membereskan action figure itu pelan-pelan. BangJer, yang bibirnya masih manyun meskipun sudah tidak ditarik, terpaksa memunguti koleksi itu satu per satu dengan wajah pasrah.

​Abah dan Bunda tampak sudah sangat terlatih untuk masuk ke rumah dalam diam, seperti ninja yang menghindari ranjau.

​Kini di ruang tamu hanya tersisa BangVan. Ia berdiri diam memandangi adik bungsunya yang tertidur dengan posisi ajaib, kakinya mengangkat ke atas punggung sofa. BangVan menatap wajah Raka yang terlihat sangat tenang saat tidur. Cantik, tapi kelakuannya memang di luar nalar. Sesekali BangVan menyentuh pipi Raka dengan ujung jarinya dengan sangat lembut.

​Bagaimanapun ajaibnya Raka, BangVan sangat menyayangi adiknya ini.

​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, BangVan merapikan posisi tidur Raka. Ia kemudian menggendong tubuh adiknya itu, membawanya menuju kamar pribadi Raka. Tanpa terusik sedikit pun, Raka tetap terlelap. Entah karena gendongan BangVan yang terlalu nyaman dan penuh kasih sayang, atau memang karena Raka kalau sudah tidur sudah seperti orang mati.

***

Setelah memastikan Raka terbaring nyaman di kasurnya, BangVan kembali ke ruang tamu. Ia berjongkok, mengumpulkan sisa-sisa action figure-nya yang masih berjejer di lantai. Satu per satu ia bawa masuk ke kamar, lalu menatanya ulang di meja pajangan dengan sangat teliti.

​Setelah semua kembali ke tempatnya, BangVan terduduk di tepi ranjang. Ia meratapi betapa cepatnya situasi yang ia hadapi hari ini. Ternyata, semuanya tidak semenyeramkan yang ia bayangkan. Membuka luka lama kepada keluarga, sesuatu yang selama ini ia anggap akan menghancurkan martabatnya sebagai anak sulung justru menjadi obat yang paling ampuh.

​Ia menghembuskan napas panjang, menatap foto keluarga yang terpajang di meja. Ada rasa syukur dari dalam hatinya. Ia bersyukur memiliki keluarga yang menyayanginya tanpa syarat, tanpa menuntut bahwa dirinya sebagai anak laki-laki pertama harus selalu terlihat kuat dan sempurna untuk menopang beban dunia.

Lihat selengkapnya