Suasana di rumah kini benar-benar hening. Penghuni rumah seolah kompak masuk ke kamar masing-masing untuk melakukan ritual tidur siang berjamaah selepas pesta ikan teri cabai tadi. Hanya suara detak jam dinding dan dengung suara AC yang mengisi kekosongan udara.
Jam menunjukkan pukul lima sore saat Raka mulai menggeliat. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar yang sudah sangat familiar. Raka terdiam sejenak, mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi.
"Loh... ajaib, udah ada di kasur?" pikir Raka heran.
Ingatan terakhirnya adalah dia sedang mengawasi barisan action figure di ruang tamu sambil menunggu kepulangan Abah. Ia tidak ingat kapan ia berjalan ke kamar, apalagi naik ke ranjang. Namun, karena dasarnya Raka adalah orang yang malas berpikir keras, ia hanya mengedikkan bahu.
Raka lekas mengambil handuk. Saat ia membuka pintu kamar, matanya kembali membelalak menatap ruang tamu. Lantai yang tadinya penuh dengan "ranjau" mainan 2 abangnya kini sudah kinclong mengkilap.
"wih… udah bersih" pikir Raka lagi. Ia merasa seolah ada peri rumah yang mampir saat ia tidur tadi.
Tanpa ambil pusing, ia melanjutkan langkah menuju kamar mandi. Setelah ritual bebersih selesai dan tubuhnya terasa segar, matanya melihat keranjang snacknya kosong dikamar segera menyambar kunci motor dan jaketnya.
Targetnya sore ini: Indomaret.
Ia harus segera mengisi ulang stok cemilan di kamarnya yang sudah tandas tak bersisa. Baginya, stok cemilan yang habis adalah keadaan darurat yang lebih gawat daripada urusan action figure. Dengan semangat membara, Raka keluar rumah, siap memborong snack untuk amunisi begadang nanti malam.
Raka memacu motor matic-nya dengan santai. Jaket kegombrongan dan celana pendek menjadi seragam andalannya sore itu. Sesampainya di depan minimarket berlogo merah-biru itu, ia langsung meluncur masuk. AC dingin minimarket menyambutnya, namun mata Raka tetap tajam tertuju pada lorong snack.
Sepuluh keripik beda rasa, masing-masing dapet satu sisanya punya ekye. Lima susu coklat buat rakyat jelata, satu liter Coca-Cola buat party di kamar, dan dua biskuit buat donatur, batin Raka menghitung logistiknya.
Saat sedang asyik memilih, seorang cowok berseragam SMA yang tampak seperti kakak kelasnya, tak sengaja menyenggol bahu Raka.
"Eh, sorry De..." ucap cowok itu terhenti saat melihat wajah Raka. "Eh, cantik..."
Raka menoleh dengan tatapan datar yang bisa membuat nyali orang ciut seketika. "Cantik, cantik... mata lu katarak? Minggir, gue mau lewat," sahut Raka dengan suara serak khas bangun tidur yang justru terdengar sangar.
Cowok itu langsung mundur tanpa suara, mentalnya ambruk seketika. Raka melenggang ke kasir dengan wajah tanpa dosa.
Setelah semuanya dibayar, Raka pulang membawa satu kantong plastik besar. Sesampainya dirumah, ia langsung nyelonong masuk ke kamar Abah dan Bunda tanpa mengetuk pintu. Ternyata Abah dan Bunda sedang duduk bersantai di kasur sambil menonton TV.
"Abah, aku beli snack. Ini buat Bunda sama Abah; dua kotak susu coklat, dua snack, dua biskuit. Totalnya jadi tiga ratus ribu ya, Bah," ucap Raka lempeng sambil meletakkan jatah "donatur" di atas kasur.