Kamar BangJer mendadak jadi sunyi senyap. Hanya ada suara napas berat dan sisa-sisa cerita yang menggantung di udara. BangJer menghela nafas panjang, lalu mengelus pundak adiknya pelan.
"Jangan salahin diri lu, Ka. Yang penting sekarang kita gausah ngeledek dia lagi. Kaya biasa aja, jangan kasihan ke dia. Dia ga mau dikasihanin sama keluarganya," ucap BangJer lembut, mencoba menenangkan si Bungsu.
Raka tidak menyahut. Ia tetap terdiam kaku di sudut kasur BangJer. Pikirannya seolah terseret jauh ke belakang. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia beranjak bangun dan keluar dari kamar BangJer. Langkah kakinya terasa berat saat menuju pintu kamar BangVan.
Ia membuka pintu itu dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Baru kali ini di dalam hidupnya, Raka merasa tidak tahu harus berbuat apa. Matanya langsung tertuju pada sosok BangVan yang sedang tertidur lelap di kasur, tampak begitu tenang namun sekaligus terlihat rapuh di mata Raka sekarang.
Raka mendekat, lalu perlahan menaiki kasur. Tanpa peduli jika tindakannya akan membangunkan sang abang, ia merebahkan diri dan memeluk BangVan dari samping. Saat hidungnya mencium bau kaos yang biasa abangnya pakai, memori lama tiba-tiba menyeruak masuk ke kepala Raka.
Ia teringat wajah khawatir BangVan saat melihatnya nekat memanjat pohon mangga terlalu tinggi hingga akhirnya ia jatuh dengan keras ke tanah. Ia ingat saat ia terpental dari sepeda karena sok jagoan melepas kedua tangannya di jalanan. Bahkan, ia teringat saat ia menabrak pagar rumah orang dengan sepatu rodanya di turunan terjal komplek.
Di setiap luka dan tangisnya dulu, BangVan-lah yang selalu menjadi orang pertama yang datang. Abang sulungnya itu akan menggendongnya pulang sambil mengomelinya habis-habisan, tapi di saat yang sama, BangVan akan menyalahkan kerikil, menyalahkan pohon, bahkan menyalahkan pagar karena dianggap terlalu jahat pada adik kesayangannya.
Perlahan, pertahanan Raka hancur. Isakan kecil mulai terdengar. Ia menyembunyikan wajahnya di punggung BangVan, menangis tanpa suara. Air matanya meresap ke baju sang abang, membawa serta semua rasa bersalah dan sayang yang selama ini tertutup oleh sikap galaknya.
Tangisan Raka yang tadinya tertahan, kini mulai terdengar sebagai isakan kecil yang tersedat-sedat. Bahunya terguncang. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang BangVan, seolah takut jika ia melepaskannya, abangnya akan menghilang ke dalam luka yang ia simpan sendiri.
Tiba-tiba, tubuh di depannya bergerak pelan. BangVan sebenarnya tidak benar-benar tidur lelap; tidurnya terlalu gelisah setelah kejadian di klinik tadi. Ia merasakan punggungnya basah dan ada lengan kecil yang melingkar erat di perutnya.
BangVan berbalik pelan, matanya yang masih sayu menatap Raka yang sedang sesenggukan dengan mata sembab.
"Lah... kok jagoan gue malah mewek?" bisik BangVan pelan. Suaranya serak, khas orang bangun tidur, tapi terdengar begitu hangat.
Raka tidak menjawab. Ia malah makin menenggelamkan wajahnya di dada BangVan, menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan menangis.
"Bujug dah... siapa nih jelek banget mukanya ya allah? Abis disuntuk tawon neng?" tanya BangVan lagi. Ia mencoba bercanda, tangannya bergerak mengelus rambut Raka yang berantakan.
Raka menggeleng kuat-kuat dalam pelukan itu. Akhirnya, dengan suara yang pecah, ia bersuara, "Bang... maafin gue ya. Gue sering banget ngeledekin lu cemen... gue kaga tau kalo lu..."