V.R.R - Virasat Rumah Rubuh

stillzee
Chapter #15

Emosi Percuma


Matahari terbenam, di ruang makan itu terasa lebih suram dari biasanya. Bukan karena lampunya mati atau cuacanya mendung, tapi karena satu makhluk kecil duduk di ujung meja dengan aura mengerikan–Raka.


Mukanya datar, alisnya mengkerut, matanya menatap piring nasi seperti lagi menginterogasi tersangka. Garpu di tangannya bergerak pelan, kadang berhenti, kadang menusuk telur dadar dengan tenaga berlebihan. seperti kucing yang sedang siaga tapi belum menemukan sasaran.


Bunda melirik Abah, Abah melirik BangJer, BangJer melirik BangVan, BangVan melirik… semua orang.

Suasana ini sangat mencekam, Abah akhirnya berdehem, suaranya dibuat sengaja berat dan serius. “Dulu… Abah punya temen suka ke bulan tau, namanya Mail.” 


“…hah?” Sendok BangJer berhenti di udara.


BangVan menoleh pelan. “Siapa, Mail?”


“Itu nama lengkapnya kalo ga salah siapa ya... siapa dah bun?.” 


“Mail Amsyong kan pasti.” Bunda menjawab sambil tertawa kecil. 


“Betul, nanti Abah transfer ke Bunda seratus ribu” jawab Abah mantap, sambil mengunyah.


“Nail Armstrong” Raka dengan suara yang masih ngambek.


“Betul juga, nanti Raka Abah transfer tiga ratus ribu” Abah ngeluarin jempolnya ke Raka.


BangJer langsung menutup mulutnya, dan menahan tawa, BangVan cuma bisa bengong. Raka akhirnya mengangkat kepala. “TF malam ini pokonya ya,” ucapnya sambil menyipitkan matanya ke arah Abah. “siap, Ratu.” Abah memberikan jempol mantapnya lagi.


Raka menghabiskan nasinya dalam tiga suapan cepat. Ia berdiri, membawa piringnya sendiri ke wastafel.

“Raka mau ke mana?” tanya Bunda hati-hati.


“Cuci piring.” Itu saja. 


Dia cuci piring tanpa ngomel, tanpa drama. Setelah itu, langsung melangkah cepat ke kamarnya. Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan, tapi efeknya terasa seperti pintu besi penjara.

Ruang makan mendadak sunyi.


BangVan menghela napas. “Tuh kan, gara-gara congornya si Roger,” gumamnya.


BangJer langsung protes. “Eh, jangan salahin gue. Gue cuma jujur.”


“Jujur lu kebablasan,” balas BangVan.


“Daripada dia tau sendiri terus ngamuk jadi gojila?” BangJer nyengir tipis. “Mending ngambek.”


Bunda menatap Abah, Abah menatap piringnya tanpa selera.

“Nanti kita ngomong pelan-pelan aja ya sama Raka,” ucap Bunda lirih.


“Nanti aja Abang yang ngomong bun, dia kenapa”


***


Di dalam kamar Raka berdiri beberapa detik di tengah kamar, lalu tanpa aba-aba menjatuhkan tubuhnya ke kasur dalam posisi tengkurap. Wajahnya menekan bantal, kedua tangannya memukul kasur dua kali.


“Capek banget punya kepala,” gumamnya, suaranya teredam kain.


Tak sampai semenit, ia bangkit lagi. Gerakannya cepat, gelisah. Tangannya meraih satu kaleng cola yang tergeletak di kasur.


Klek-


Busanya hampir muncrat. Raka mendecak, lalu duduk bersila dan menenggaknya langsung setengah kaleng. Ia menarik nafas panjang.

Tiba-tiba, sebuah nama melintas di kepalanya.

BangVan punya satu sahabat yang tidak pernah berubah sejak kecil. Raka tidak yakin apakah mereka satu SMP atau tidak, tapi yang jelas, orang itu selalu ada di dekat BangVan.

Raka langsung meraih ponselnya dan membuka Instagram.


Ta2ng_45.


Raka menyipitkan mata.

“Nah ini dia. Bang Tatang, pasti.”

Tanpa pikir panjang, ia langsung mengirim pesan.


BangTang, lu pernah sekelas BangVan waktu SMP ga?


Balasan datang cepat.

Tatang: Iya. napa?


Raka menyengir tipis.

Oke, sip. Siapin teh pake es ya, Bang. Gue mau ke sana.


Tak lama kemudian, balasan masuk lagi.

Tatang: Kebiasaan. Nggak abang, nggak ade, nyusahin doang.


Raka tidak sempat membaca pesan itu. Ia sudah berdiri, meraih sweaternya bergegas keluar kamar menuju kamar orang tuanya.

Lihat selengkapnya