Malam makin larut. Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan, jarumnya sudah menunjuk angka sepuluh.
Abah duduk di sofa sambil menatap pintu depan yang tak kunjung terbuka. Dari tadi, ia berkali-kali melirik jam, lalu melirik Bunda yang sedang merajut menemani Abah di ruang tamu.
“Bun…” Abah akhirnya bersuara.
“Hmm?”
“Ini yang beli cireng kok belum pulang-pulang, ya?”
Bunda melirik jam lalu melihat wajah Abah.
“Loh iya…” gumamnya. “Tadi bilangnya bentar bah.”
Abah berdiri, berjalan ke arah jendela, mengintip ke luar. Gelap. Sepi. Tidak ada suara motor.
“Udah jam segini harusnya udah pulang, Bun,” katanya pelan.
Bunda ikut berdiri. “Apa jangan-jangan antriannya panjang?”
Abah menoleh. “Masa iya Bun”.
Ada jeda hening yang aneh.
Abah langsung berbalik badan, melangkah cepat menuju kamar kedua anak laki-lakinya.
“Jer! Van!”
Tak lama, dua kepala muncul di pintu kamar.
“Iya, Bah?” jawab mereka bersamaan.
“Cari adik kalian. Udah jam segini belum pulang. Izinnya cuma beli cireng soalnya bang.”
BangVan langsung mengeluarkan ponselnya.
“Gue telepon.”
Ia menekan nama Maung di kontaknya.
Berdering…
Tidak diangkat.
Coba lagi.
Tidak diangkat juga.
“Dia nggak angkat,” kata BangVan, mulai tegang.
BangJer mendecak. “Akkh… virasat gue nggak enak nih, Bang.”
“Kenapa?”
“Nyamperin tuh cewek kali ya?”
“Ngaco lu. Orangnya aja udah nggak di sini,” jawab BangVan.
BangJer mengangguk cepat.
“Alhamdulillah. Terus ke mana?”
Bangjer mengeluarkan ponselnya. ia juga ingin menelpon sahabat adiknya Tania.
“Bentar, gue telepon sohibnya.”
Panggilan tersambung.
“Halo”
“Halo, dek.”
“Iya, Bang, kenapa?”
“Raka di rumah kamu nggak?”
“Enggak, Kak. Dia lagi ngambek.”
“Ngambek kenapa?”
“Di sekolah dia dicengin satu kelas gara-gara ngapelin Bang Epan pake seragam sekolah. Pelajaran kedua langsung cabut. Aku juga nelponin dia, tapi nggak diangkat dari siang.”