Di rumah bang Tatang.
Jam di dinding sudah menunjukkan lewat setengah sebelas malam.
Raka masih duduk di kursi ruang tengah dengan punggung tegak dan wajah datar.
Bedak tipis menempel di pipinya, alisnya rapi, rambutnya dicepol setengah. Penampilannya jauh dari kata “dirinya”, dan itu justru bikin suasana makin absurd.
Di depannya, mamaknya Bang Tatang berdiri, menatap hasil dandanan itu dengan ekspresi puas.
“Coba nengok dikit ke kiri,” perintahnya.
Raka menurut, tapi bibirnya manyun.
“…Mak, Raka beneran mau pulang.”
“Sebentar. Ini udah cantik, tinggal dirapiin dikit,” jawab mamaknya santai.
Tatang yang duduk di sofa cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nahan tawa.
“Rak, serius. Ati-ati keluar rumah begini ketemu babang Satria Mahathir langsung di bungkus lu.”
“Jaga moncong anda budak,” sahut Raka datar.
Mamaknya Tatang mendekat, merapikan poni Raka yang turun sedikit.
“Ih, cocok jadi anak perempuan mamak. Sayang amat nggak punya anak cewek.”
Raka menutup mata, menarik napas panjang.
“Mak… udah.”
“Yak udah nih,” jawab mamaknya ringan.
Di ujung sofa, jaket Raka tergeletak sembarangan. Dari dalam saku, ada cahaya kecil yang menyala—mati—menyala lagi. Redup, tapi jelas tembus kain.
Tatang yang sejak tadi duduk selonjoran tanpa niat apa-apa, akhirnya melirik.
Layar ponsel di dalam jaket kembali menyala.
Tatang bangkit dari duduknya, melihat ada apa dengan ponsel raka.
Ia meraih jaket dan segera mengeluarkan ponselnya.
BangVan Calling…
lalu langsung mengangkat panggilannya.
“Halo.”
Di seberang, suara BangVan langsung naik.
“Lah, sape lu?”
“Gue Tatang.” Tatang melirik Raka sekilas. “Napa lu nyariin ade lu, ya?”
Nada di seberang langsung berubah.
“Iya. Susah amat ditelpon si tub bocah.”
Tatang mendecak kecil. “Kaga bunyi HP-nya. Ini gua baru ngeh.”
“Bocahnya di rumah lu?”
“Iya.”
Jeda singkat BangVan.
“Yaudah. Gua otw.”