Pagi datang sunyi.
Matahari tetap naik seperti biasa.
Di meja makan, semuanya sudah rapi dengan pakaian masing-masing.
Seragam bersih, rambut tersisir, sepatu sudah menunggu di depan pintu.
Hanya satu yang berbeda.
Raka duduk diam.
Biasanya dia paling berisik.
Paling ribut.
Paling banyak komentar.
Sekarang?
Sendoknya hanya memutari piring.
BangJer melirik sekilas.
“Ekheem” nada suaranya di buat dengan sengaja.
Raka enggan membalas.
Hanya mengangkat alisnya sedikit.
BangVan beranjak dari kursinya, membawa secangkir kopi ke ruang tamu.
Ia memilih duduk di sana, menyandarkan tubuhnya, namun matanya tetap memantau meja makan.
Abah duduk di ujung meja.
Dan sudah lama tatapannya tidak pernah terlepas dari anak perempuannya—Raka.
Bukan tatapan marah.
Hanya tegas.
Namun terlalu tegas.
Raka mulai merasa terpojok.
Tangannya mulai dingin.
“Salah…” ucapnya akhirnya pelan, menatap piring sarapannya.
Abah mengangkat alisnya.
“Apanya yang salah?,” nada suaranya santai, tapi sorot matanya tidak.
Raka melirik BangJer, berharap pertolongan.
BangJer berdiri spontan, mengalihkan pandangannya dari Raka.
“Bang bagi dong kupinya,” katanya, pura-pura santai, lalu membawa piringnya ke ruang tamu.
Raka menoleh ke arah BangVan diruang tamu.
Mata BangVan sempat bertemu Raka.
Ia langsung mengalihkan pandangannya, pura-pura fokus ke BangJer.
“Kopi ini jika di campur nasi enak tau ada manis-manisnya.”
Raka mulai panik.
Kini matanya beralih ke Bunda.
Satu-satunya harapan.
“Bun, to—”