Roteki berdiri di anjungan, menatap samudera yang tak pernah memberi belas kasihan. Badai bisa ia hadapi. Vrath? Tidak. Justru yang ia takuti adalah kembali dengan tangan kosong.
Perintah dari penguasa tertinggi dari bangsanya itu bukan sekadar misi. Itu ancaman yang dibungkus harapan dan Roteki sadar, kegagalan hanya akan mengundang kemurkaan dan berakhir kematian.
Tamparan ombak laut yang berwarna perak berkilauan pada sisi kiri lambung kapal tak membuatnya oleng. Benda besar yang terbuat dari kayu terus berlabuh, menjaga seluruh awak kapal beserta isi penumpangnya dengan damai.
Roteki dan seluruh kru menerima perintah langsung untuk mencari dan menemukan sesuatu yang diinginkan Vrath—sebutan raja dari bangsa Malopolic—bernama Ahnnuki. Semacam benda magis yang terkubur di samudera terdalam.
“Badai akan tiba …,” ucap Roteki. Hidungnya mengendus aroma udara beberapa kali, “yang terbesar!”
Para awak kapal sudah merasakan pertanda itu bahkan sebelum angin pertama datang. Roteki berdiri di anjungan, rambut panjang tak beraturan yang merah menyala itu berkibar secara acak. Pencarian harus tetap dilanjutkan, tetapi berhadapan langsung dengan badai besar … pertaruhan menjadi sangat besar.
“Turunkan layar atas,” perintahnya pendek.
Roteki bertindak lebih cepat, ia tidak mau pencariannya gagal dan mati sia-sia. Seluruh anak buah dipaksa patuh atas semua arahannya atau mati.
Semua menjadi patuh terhadap komando. Di geladak, tangan-tangan kasar yang dipenuhi kapalan memanjat tali-temali. Mereka bergerak cepat. Bau garam, ter, dan kayu basah bercampur di udara.
Mereka menariknya seakan bisa saja napas berakhir di detik itu juga, bahkan ketika badai belum benar-benar menerjang. Menarik talinya atau tewas.
Tiupan angin pertama datang. Berlanjut dengan angin yang menerjang dari sisi kapal dengan suara menderu. Layar-layar menggelepar liar sebelum akhirnya ditarik turun oleh para awak yang berjuang menahannya. Tali-tali menegang seperti urat yang hampir putus.
Langit semakin gelap. Awan badai menggulung, bak ingin menelan hidup-hidup apa pun di dekatnya. Petir pertama membelah langit, menyambar jauh di balik cakrawala dengan cahaya putih yang menyilaukan.
Gelombang pertama menghantam lambung kapal seperti tembok air raksasa. Kapal terangkat tinggi, lalu jatuh kembali dengan dentuman keras yang mengguncang seluruh rangka kayu.
Seorang awak hampir terseret, tetapi tangannya cepat diraih oleh rekannya.
“Pegang talinya!” teriak seseorang di tengah gemuruh angin.
Badai sudah benar-benar tiba. Angin meraung tanpa henti. Hujan turun bagai tirai air yang menghantam wajah dan mata. Dalam hitungan detik, semua orang di kapal telah basah kuyup.
Sebagian awak mengikat layar cadangan agar tidak robek. Yang lain mengencangkan jangkar tali di tiang utama. Dua orang berdiri di kemudi, berjuang menahan roda kemudi yang berusaha diputar paksa oleh arus dan angin.
Setiap gelombang datang seperti raksasa yang mencoba menelan kapal. Ember-ember dari kayu segera dipakai untuk membuang air yang masuk ke dalam lambung kapal. Otot lengan mereka menegang dan napas mereka berat.
Kilat cahaya petir, langit semakin menggelegar, ombaknya semakin terpacu dengan menambah gelombang lebih tinggi. Siap menggulung dan melahap apa pun yang ada di sekitarnya.
“Gelombangnya terlalu tinggi!” Roteki terbelalak dan bersiap menghadapi gelombang tinggi di depan.