VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #2

Bab 02 - Air dan Kesedihan

Kitab Zyguba terapung bersama mayat Roteki, memicu peristiwa aneh di laut sekitarnya.

Warna laut berubah menjadi abu-abu keperakan. Benda tersebut kini terdampar di sebuah pesisir pantai bagian utara jauh dari kerajaan Malosopic.

Tak ada satu makhluk pun di area itu, hanya kesunyian dan tiupan angin yang memecah keheningan serta suara sapuan ombak yang membasahi bibir pantai.

Aura aneh merambat melalui air laut Valerath. Jauh di daratan, di sebuah Sanctum terbesar milik bangsa Arupika, seseorang merasakan getaran itu.

Larina, seorang Magius, menyadari sebuah keganjilan. Ia duduk bersimpuh dan menangkap aura buruk.

“Air berada dalam kesedihan,” gumam Larina.

“Itukah yang dibisikan oleh alam pada Nona?” tanya Galdana, sang Hyawiya.

Larina terangguk pelan, wajahnya hanya menatap lurus ke depan, rambut lurusnya yang panjang berwarna perak berkilauan tampak rapi jatuh ke punggung. Ada hiasan mahkota kecil di kepalanya yang terbuat dari perak.

“Valerath menuju ketidakseimbangan. Jika tidak segera diperbaiki, kekacauan tak bisa terhindarkan,” ucap Larina.

Sang Hyawiya pun melangkah sedikit tergesa, menuju sebuah ruangan lain di kuil secara khusus.

Di sana terpasang sebuah batu pipih berukuran besar, lengkap dengan ukiran bertuliskan mantra kuno, ada aura cahaya berwarna biru muda di setiap hurufnya.

Sang Hyawiya itu berdiri, seperti menunggu sesuatu datang kepadanya. Tak lama kemudian, aura cahaya biru muda membentuk semacam kerangka tubuh dan secara sempurna muncul seorang pendekar bertubuh gagah berjubah hijau muda berlutut persis di depan batu pipih tersebut.

“Reida.” Galdana menyebut nama pendekar tersebut.

“Ya, Sang Hyawiya. Apakah ada berita besar bagi kerajaan Siroptera?” tanya Reida sambil menekuk kepalanya sedikit tanda hormat.

“Air berada dalam kesedihan,” kata Galdana, nadanya lembut dan pelan.

Lihat selengkapnya