VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #3

Bab 03 - Undangan

Mayat Roteki berjalan terpatah-patah. Beringsut pelan dengan bola mata merah menyala, posisinya bergeser jauh dari posisi semula ketika pertama kali ditemukan.

Di sisi lain, Ren telah menjauhi area pantai sejauh tiga kilometer dalam pelariannya membawa kitab. Di depannya telah menanti kawasan hutan kecil dan menuju ke suatu tempat. Namun, pelariannya masih belum aman.

Tak jauh di belakangnya, Reida pun masih memburu tanpa henti. Ia memprediksi ke mana arah buruannya akan pergi. Lebih jauh lagi, Rikuho yang terluka juga memaksakan diri mengikuti jejak mereka.

“Mungkin ada kuil bangsa Malopolic di hutan,” terka Reida dalam hati yang terus berlari dengan pedang di tangannya, belum disarungkan.

Ren yang telah tiba lebih dahulu segera menerobos masuk ke hutan. Ia terus berlari menerobos masuk bak tubuhnya hilang ditelan rimbunan dedaunan hijau. Tak lama berselang, Reida pun telah tiba di kawasan hutan kecil, di mana Ren berlari masuk ke dalamnya.

“Ini dia hutannya!” seru Reida dengan dada yang naik turun. Matanya melirik kiri-kanan menyapu pandangan ke segala arah.

“Jika dugaanku benar … maka Portiferath adalah tujuannya. Aku harus bergegas!” lanjut Reida yang tanpa ragu menerobos masuk ke hutan.

Rikuho sendiri menyusul memasuki area hutan tak lama setelah Reida menerobos masuk ke hutan. Ia ingin mencoba sekali lagi menghadang si pendekar bertubuh kekar dan juga pemilik teknik langka itu, agar Ren bisa menyelesaikan tugas dan misinya. Rikuho agak terlambat mengejar akibat terluka sejak di pertempuran sebelumnya melawan Reida.

Ren tiba di sebuah kuil batu tua berwarna kelabu. Pilar granit putih menjulang dengan relief para dewa Valerath. Lonceng kecil bergemerincing tertiup angin hutan.

“Ini dia!” Ren menahan napas sebentar sebelum akhirnya dengan tergesa-gesa memasuki kuil tujuannya.

Ren memberi isyarat kepada tiga penjaga dari kalangan Malopolic, agar proses perpindahannya tidak diganggu oleh pendekar dari pihak Arupika yang mengejarnya.

“Aku akan menggunakan Portiferath. Berjaga di sekitar kuil!” perintah Ren. Ketiganya mengangguk dan bersiaga.

Tak lama berselang Reida juga telah menemukan kuil yang dimaksud. Ada sebuah pelindung mengelilingi kuil, dengan sigap ia mengalirkan aura pada pedang dan mengayunkan pedangnya dalam lima kali tebasan beruntun.

Kekuatan aura mana Reida sangat kuat dan akhirnya mampu merobek mantra pelindung. Namun, perjuangannya tak berhenti sampai di sana. Ketiga penjaga menghadang saat menyadari kedatangan Reida, pendekar yang berasal dari bangsa Arupika.

Reida terpaksa meladeni ketiganya sebelum bisa benar-benar menerobos masuk kuil dan mencegah Ren melarikan diri menggunakan Portiferath. Secara bergantian, ketiga penjaga menyerang dan menangkis untuk menghalau Reida menerobos kuil.

Di saat yang bersamaan, ketika Reida sibuk meladeni ketiga penjaga kuil, Rikuho menerobos kuil dan akan menjaga Ren selama proses pemindahan tubuh ke kuil kerajaan menggunakan Portiferath.

Benda-benda dari besi saling beradu, memecah keheningan kuil yang berada di kawasan hutan tersembunyi. Namun, aksi mereka perlahan dipatahkan Reida satu per satu. Jelas, mereka bukanlah tandingan pendekar bertubuh kekar yang terkenal kuat dari bangsa Arupika.

Pedang pertama mematahkan tombak penjaga. Yang kedua memutar tubuh Reida dan menghantam bahu lawannya. Penjaga ketiga mencoba menusuk dari belakang, tetapi Reida sudah lebih dulu berbalik. Lima belas tebasan kemudian, ketiganya telah terkapar.

Sejurus kemudian ia bergegas menerobos masuk kuil dan mencari ruangan di mana batu pipih sakral tersimpan. Sebuah alat untuk berpindah tempat secara instan ke berbagai wilayah bagi para pendekar di Valerath.

“Berhenti!” Reida berteriak ketika detik-detik akhirnya ia menemukan Ren di depan batu Portiferath.

Lihat selengkapnya