Aroma yang terhirup menyegarkan, tetapi terkesan bau kekacauan dan ketidakseimbangan. Seakan penghuni di dalamnya menggeliat penuh kekhawatiran. Langit sedari tadi berwarna ungu pekat disertai beberapa amukan petir yang menggelegar.
Sejauh mata memandang, hanya suasana asing yang terlihat di matanya dan aroma kehidupan liar. Kakinya sedikit bergetar saat bangkit dan mencoba melangkah pelan. Memastikan sesuatu bahwa setiap langkah kakinya aman dari marabahaya.
Badannya sedikit membungkuk dengan gerak-gerik bola mata yang terlempar ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Suasana di tengah hutan sangat sunyi, dalam sepuluh langkah ke depan, hanya suara gemerisik sepatu yang menginjak rumput atau tanaman rambat.
“Siapa itu!” desahnya sambil menoleh cepat ke kanan, poni rambutnya yang pirang terlempar pelan dan bergoyang tepat di depan dahi.
Lelaki yang mengenakan kaos polos berwarna putih tercengkat dan mundur beberapa langkah, dagunya terangkat dan terbelalak saat melihat hewan besar bagai monster bersayap, terbang ke langit.
Pipinya sedikit tersayat tekanan udara ketika monster bersayap baru saja terbang.
“Astaga. Tempat macam apa ini?” Nyalinya semakin ciut setelah melihat monster sebesar itu tepat di depan matanya langsung.
Bocah itu memejamkan mata dan mengusap-usap dada beberapa kali sambil bergumam, “Xander. Semua baik-baik saja. Semua baik-baik saja.”
Akan tetapi, kelegaannya berakhir sekejap saja ketika beberapa monster kecil berbulu perak sedikit abu-abu, taringnya menyeringai, dan memiliki enam kaki. Terlihat seperti serigala di mata Xander, hanya saja kakinya ada enam atau tiga pasang.
“Makhluk macam apalagi ini?” Xander menatap siaga dengan mundur perlahan. Jantungnya berdegup kencang.
Makhluk-makhluk itu menggeram, taringnya siap menyergap Xander yang berdiri sendirian kapan saja. Tanpa berpikir panjang, lelaki dengan celana panjang berwarna biru itu lari tunggang langgang, menerobos semak-semak di hutan tanpa peduli kulitnya tergores onak atau duri.
Xander berlari secepat yang ia bisa, meski terkadang kakinya terjerembab karena tersangkut tanaman yang menjalar. Ia terus berlari tanpa arah dan berharap bisa segera keluar dari hutan. Kaos putih dan celananya sobek di beberapa bagian, bahkan kulitnya sedikit terluka gores.
Kini, kakinya menginjak bebatuan dan tampak sepert jalan setapak. Tanpa pikir panjang, Xander berlari dengan mengikuti jalan setapak itu hingga sampailah ia di sisi luar hutan.
Ia membungkuk sambil menopang lutut, menyeka keringat dengan tarikan napas pendek berkali-kali. Pandangan matanya tertegun melihat sebuah bangunan megah dan besar. Di belakang bangunan megah terbentang gunung yang sangat jauh letaknya, hanya tampak berwarna biru ke abu-abuan.
“Seperti kastil megah. Apakah aku harus ke sana?” Pikiran Xander bimbang.
Xander menoleh ke belakang sekilas, baginya hutan itu jauh lebih berbahaya dan memilih mendatangi saja bangunan megah nan besar meski harus menempuh jarak yang sangat jauh.
Xander pun berjalan mengikuti jalan yang panjang dan terbentang. Jalannya cukup berkelok-kelok dan terkadang menurun, kadang juga menanjak.
Entah sudah berapa lama ia terus berjalan, keringatnya banjir memenuhi pelipis dan leher. Sesekali ia menyeka saat keringat jatuh membasahi kedua alisnya, agar tidak terkena mata.
Setelah jauh berjalan, pemandangan sedikit berubah saat Xander melihat dari kejauhan beberapa bangunan kecil seperti rumah berjejer di kiri dan kanan, menghiasi sepanjang jalan.