Tak ada yang lebih melegakan bagi Xander, selain mengetahui bahwa yang membantunya itu juga manusia sebangsanya. Namun, diam sesaatnya itu dibuyarkan mengingat bahwa keselamatan mereka masih dalam ancaman.
“Berdiri!” serunya sambil mengulurkan tangan pada Xander.
Sambil berdiri setelah meraih tangan orang yang menolongnya, ia pun sambil menyeka wajahnya untuk membersihkan noda berbau busuk yang mengotori wajahnya.
Monster berbentuk cacing raksasa serta gigi-gigi gerigi tajam yang mengelilingi sempurna pada bagian lubang mulutnya, hendak memangsa keduanya.
Xander dan pria tadi melompat untuk menghindar dari serangan. Tanah sedikit bergetar saat monster itu menabrak daratan saat memangsa tetapi gagal.
“Siapa namamu?” tanya Xander sambil bangkit berdiri, namun pandangannya ke arah monster yang masih mengamuk brutal.
“Aiden,” jawabnya pendek.
“Aku Xander,” balas Xander.
Kini, keduanya sibuk melompat ke sana kemari agar tidak dimangsa hidup-hidup. Namun, sulit untuk berusaha lari menjauh. Kadang, getaran di tanah menyebabkan Xander kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal, begitu pun dengan Aiden.
Tubuh Xander dan Aiden terhempas jauh, meninggalkan jejak seretan di tanah berpasir sebelum akhirnya berhenti dengan posisi terjungkal. Meski nyaris kehilangan kesadaran, insting bertahan hidup memaksa mereka untuk kembali berdiri dan menantang maut yang ada di depan mata.
Aiden masih mampu untuk kembali bergerak dan berdiri, tetapi tidak dengan Xander. Tubuhnya masih tersungkur dalam keadaan tengkurap.
“Xander! Berdiri!” teriak Aiden.
Xander mendengar teriakan tersebut, tetapi badannya merasakan nyeri di berbagai tempat. Butuh waktu untuk berdiam sejenak baginya. Namun, keadaan tidak memungkinkan karena itu akan menjadi santapan empuk bagi si Monster Cacing.
Aiden melihat dari kejauhan, Xander tampak kesulitan untuk berdiri. Posisinya masih sebatas berlutut dan belum sepenuhnya berdiri, tetapi pedang di tangan kanannya masih digenggam erat.
“Xander! Menghindar …!” teriak Aiden.
Xander menoleh ke belakang sedikit, melihat si Monster Cacing hanya dari bagian sudut matanya. Dengan susah payah Xander menghindar dengan melompat pelan ke kiri, hingga menggelinding pelan di atas tanah berpasir dalam posisinya telentang.
Aiden berusaha berlari mendekati Xander, meski sedikit tertatih. Namun, gerakan si Monster Cacing jauh lebih cepat dan siap menghantam dan memangsa Xander yang masih dalam keadaan terbaring dan kesulitan bergerak.
Xander mengatupkan rahang, kedua tangannya memegang pegangan pedang dengan erat, bilah pedangnya mengacung ke arah si Monster Cacing. Tangannya bergetar hebat, degup jantung semakin berpacu cepat.
Kilatan cahaya petir di langit disusul suara yang menggelegar, tidak membuat si Cacing Monster menghentikan aksinya. Justru semakin brutal dan siap memangsa Xander kapan saja.
“Menghindar!” seru Aiden yang berusaha menyeret badan dan kakinya menuju ke arah Xander.
Xander tidak yakin dengan posisinya yang sekarang untuk menghindar. Satu-satunya hanyalah pedang yang bisa ia acungkan dengan tegap, meski keberaniannya menciut perlahan.