Langit Valerath belum lama berubah gelap saat Reida berdiri di pelataran kuil yang kini sepi. Pendekar bertubuh kekar berjubah hijau muda hanya berdiri terdiam.
Ia hanya memandangi batu Portiferath setelah mengubah struktur formula mantranya. Reida mundur beberapa langkah, berdiri seakan menunggu sesuatu yang akan muncul dan berita yang sesungguhnya akan mengoyak hatinya.
Partikel cahaya biru muda bersinar tepat di depan batu Portiferath. Muncul sosok Sang Hyawiya dan lima orang pendekar Arupika di belakangnya.
“Tampaknya kau gagal merebutnya,” kata Galdana maju perlahan, kedua tangannya bertumpu di belakang.
Reida hanya mengangguk pelan. Keduanya sama-sama mengetahui langit Valerath yang saat itu menjadi gelap seketika. Mereka sama-sama menerka bahwa Valerath akan kehilangan keseimbangan perlahan, sejak kitab Zyguba berada di tangan Ahnnuki.
“Pemimpin rakus itu tidak pernah mengetahui batasan,” umpat Galdana meski tutur nadanya lembut.
Setelah itu badan Galdana berbalik, memerintahkan para pendekar Arupika yang dibawanya mengamankan kuil dan berjaga. Dengan ini, kuil tersembunyi di hutan—sebelumnya milik bangsa Malopolic—menjadi milik bangsa Arupika.
“Kau bersamaku … kembalilah ke kerajaan,” pungkas Galdana.
Reida mengangguk tegas. “Iya.”
Galdana dan Reida mendekati Portiferath. Setelah itu melafal mantra yang nyaris tanpa bersuara. Partikel cahaya biru muda bersinar dan membawa kedua tubuh itu berpindah ke kuil dekat kerajaan. Keduanya berdiri di depan batu Portiferath yang tersimpan di kuil kerajaan.
“Pergilah menghadap Yang Mulia,” perintah Galdana.
Reida berjalan dengan langkah yang tegas saat mendekati singgasana Sang Eurfath. Kemudian berlutut dengan tangan kanan yang menopang kelutut, kepalanya sedikit menunduk.
“Mohon hukum Hamba, Yang Mulia,” ucap Reida nada penuh hormat.
“Melihat sikapmu ini, artinya kau gagal melakukan tugasmu,” kata Mikhel yang masih duduk dengan tegap di kursi tahtanya.
“Kitab itu telah jatuh ke tangan bangsa Malopolic.” Reida melaporkan dengan jujur.
“Maka, kau harus mendapatkan hukuman sesuai aturan kerajaan.” Mikhel memejamkan mata saat mengucapkan kata hukuman, hatinya agak berat.