VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #8

Bab 08 - Zona Lavlare

Hari itu Reida duduk di atas sebuah pohon besar, bersandar pada batang pohon sambil menikmati satu gigitan buah yang dipegangnya.

Xander dan Aiden berdiri saling berhadapan, bersiap dengan pedang untuk berlatih. Di sini, Aiden memang berjanji pada Xander untuk sedikit mengajarinya dalam menggunakan pedang untuk membela diri.

“Tolong latih aku dengan baik,” pinta Xander dengan pedang tergenggam oleh dua tangan ke arah depan.

Berbeda dengan Xander, Aiden mengangkat pedang dan posisi kedua tangannya sejajar di kuping kiri. Keduanya bergerak menyamping perlahan sebelum serangan pertama dimulai.

Reida tersenyum tipis melihat upaya keduanya dalam hal seni beladiri. Namun, di mata sang Pendekar satu ini, keduanya membutuhkan waktu yang panjang dan lama jika ingin bertahan di Valerath. Apalagi jika ingin lebih kuat.

Xander dan Aiden maju dengan hentakan kaki dengan kuat ke tanah, kedua bilah besinya beradu beberapa kali dalam beberapa ayunan. Suara dentingan terdengar nyaring, tiupan angin dunia Valerath menerpa dua anomali asing, dan terhenti saat pedang Xander terpelanting.

“Aku kalah,” aku Xander dengan tarikan napas yang cepat berkali-kali.

“Saat bertarung, lain waktu upayakan senjatamu tidak terlepas,” papar Aiden sembari menyarungkan pedangnya kembali yang terikat di pinggang kirinya.

“Baik,” sahut Xander bernada tegas.

Saat matahari semakin meninggi di cakrawala, keduanya beristirahat. Aiden melepaskan kemeja luarannya yang berlengan panjang dan menyodorkannya pada Xander.

“Huh?” Xander heran.

“Pakaian dari daun itu tak akan bertahan lama, Xander. Lihat, di beberapa bagian bahkan telah robek,” kata Aiden sambil menggerakkan dagu.

Xander malah menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Cepat pakailah ini,” desak Aiden.

Pada akhirnya Xander menuruti perintah Aiden. Ia langsung melepaskan daun yang melilit di tubuhnya dan segera mengenakan kemeja milik Aiden.

“Apa kau nanti tidak akan kedinginan saat malam hari?” tanya Xander saat baru memasukkan lengan kanan pada lubang tangan di kemeja.

“Bahkan aku lebih bertanya-tanya apa kau tak kedinginan hanya menutupi badan dengan beberapa lembar daun?” Aiden balas melempar pertanyaan juga.

“Sejujurnya, dedaunan itu tak mampu menahan rasa dingin ketika malam hari,” jawab Xander.

Sejak awal Aiden mengenakan dua lapis kain pada baju yang dikenakannya. Kaos hitam dalaman yang tidak berlengan dan kemeja luaran lengan panjang berwarna coklat gelap.

Hari berganti hari. Xander dan Aiden di tempat yang sama terus mengasah gerakan dalam bermain pedang. Bahkan, agar aman … keduanya memilih melepaskan baju saat berlatih agar terhindar dari sayatan dan menghindari baju robek.

Reida sendiri bersantai dari kejauhan, mengawasi dan memantau keseharian keduanya dengan baik. Kadang, ia mengeluarkan catatan dari gulungan kulit dan menulis atau menggambar sesuatu di atasnya.

Lihat selengkapnya