VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #9

Bab 09 - Mengejar Aiden

Tubuhnya tertunduk, perasaan bersalah menghujamnya atas penghakiman akan kelemahannya. Bak sepuluh pedang menancap jiwanya bersama-sama dalam satu waktu.

Reida hanya mengintip di balik bebatuan, melipat tangan di depan dada sambil menggumam, “Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Xander?”

Cukup lama Xander membungkuk sambil menyalahkan keadaan dirinya yang tampak begitu lemah. Setelah merasa puas menorehkan kelemahan yang seharusnya tidak ditunjukkan, Xander bangkit berdiri.

Ia menyeka bulir air mata yang nyaris terjatuh. Sedikit demi sedikit mengumpulkan sebuah tekad.

“Tidak. Tidak bisa seperti ini selamanya. Tidak bisa hanya berdiam diri dan pasrah atas nasib,” pikir Xander dengan tegas.

Bukankah ia memiliki tubuh yang sehat dan cukup kuat. Saat Xander melirik pedangnya yang tergeletak, harusnya ia segera bangkit dan mengejar karena memiliki senjata yang akan menjadi penolongnya.

“Aiden. Tunggu aku. Jangan dulu mati sebelum aku menemuimu lagi, kumohon!” ucap Xander dengan nada yang rendah, tetapi Reida cukup bisa mendengarnya samar-samar.

Xander memungut pedangnya yang tergeletak tanpa sarung pedangnya. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengacungkan lurus ke depan. Dilanjut dengan sebuah teriakan berisi tekad.

“Aku pasti akan sampai ke tempatmu, Aiden. Lihat saja!” teriaknya.

Reida tersenyum lebar.

“Benar. Begitulah seharusnya. Seperti itulah tekad sang Pendekar. Kau layak menerima itu, Xander.” Hal itulah yang tersembunyi di dalam hati Reida.

Matahari mulai condong ke arah barat, hari hampir senja. Xander telah menuruni tebing dan mencari sebuah tempat yang tertutup untuk beristirahat. Karena esok hari, perjalanan menempuh bahaya dan menguji tekad akan segera ia lalui dengan sungguh-sungguh, demi Aiden.

Xander duduk bersandar pada dinding batu, memejamkan mata untuk beristirahat di malam itu. Mencoba mengumpulkan stamina untuk perjalanan jauhnya.

Bola sinar terang menyinari perlahan tubuh Xander yang tengah berbaring. Posisinya sudah telentang di banding pertama kali yang hanya menyandarkan tubuh.

Lihat selengkapnya