Anak remaja bertubuh kurang gagah, berhadapan dengan tiga anomali yang berperawakan kekar dan gagah. Bukankah sangat ironis jika Xander menghadapinya secara langsung, brutal, dan ugal-ugalan.
“Tidak akan pernah menang jika melawan ketiganya sekaligus,” gumam Xander memikirkan berbagai cara.
Ketiga bangsa Malopolic yang disinyalir hanyalah perampok jalanan, menyeringai lebar ke arah Xander yang hanya sendirian saja.
“Jarah dia sekarang!” perintah salah satu dari mereka.
Tanpa berpikir panjang Xander memilih berbalik arah, lari sekuat tenaga, dan lari sejauh mungkin. Hari itu terjadi pengejaran secara brutal, Xander memasuki area bukit agar mudah untuk bersembunyi.
Badan Xander membungkuk di balik bebatuan besar, menyembunyikan dirinya selagi ketiga musuh mengincarnya.
“Aku harus memisahkan mereka satu per satu dulu,” pikir Xander.
Dalam pikiran Xander, memisahkan dan melumpuhkan mereka satu per satu tanpa melenyapkan nyawa adalah pilihan yang tepat. Menghindari penyesalan dan trauma, tetapi konsekuensi risikonya terlalu tinggi.
Cukup lama Xander memperhatikan gerak-gerik ketiganya, menunggu salah satu dari mereka memisahkan diri untuk mencari keberadaannya. Waktu terus bergulir, tiupan angin berubah-ubah untuk ke sekian kalinya, hingga momen yang ditunggu oleh Xander akhirnya tiba.
Xander telah yakin bahwa sisa dua anomali tadi berjarak cukup jauh. Ia melompat dan keluar dari persembunyian, menyerang secara bergerilya. Bilah pedang beradu.
Percikan aura api menyambar di antara mereka. Xander menyadari sesuatu. Musuh yang ada di hadapannya jauh lebih menantang dibandingkan monster yang ia lawan sebelumnya.
Beberapa kali ayunan serangan tak juga mampu melumpuhkan lawan, hanya dentingan nyaring kedua bilah pedang yang beradu terus-menerus memecah keheningan.
Perampok itu menyeringai lebih lebar, Xander agak terintimidasi oleh sikap musuhnya secara batin. Namun, ia harus terus memompa rasa kepercayaan diri bahwa berhasil melumpuhkan akan membawa kemenangan dalam pertempuran kali ini.
Dalam satu kesempatan, beradu pedang yang terus berdenting memberinya sebuah celah tatkala tekanan pedang Xander lebih unggul. Dengan teknik yang pernah diajarkan Aiden cara melucuti senjata lawan, ia mengayun keras pedang secara vertikal dari arah bawah ke atas.
“Kena kau!” batin Xander.
Dalam sekejap, pedang yang dipegang lawan terlempar dan berputar-putar di udara. Sejuru kemudian Xander menghantam kepala musuh dengan cara memiringkan pegangan sehingga memukulnya dengan punggung pedang tanpa membunuh lawan.
Terdengar keras suara besi yang beradu dengan tengkorak, hingga yang terpukul berteriak sebelum ambruk. Satu telah berhasil dilumpuhkan oleh Xander.
“Ini dia!” Xander menyeringai dengan cukup lebar.