Reida berdiri di kejauhan menatap Xander yang merenung di sisi sungai.
"Tak ada alasan apa pun kau itu pergi ke seberang sana. Kemampuanmu belum cukup," pikir Reida.
Akan tetapi, mengingat bagaimana perjalanan jauh Xander hingga di titik sekarang, Reida merencanakan hal lain. Hari itu dirinya langsung meninggalkan Xander, menghilang di kedalaman hutan meski kehadirannya tak pernah disadari Xander.
Anak remaja itu berjalan mondar-mandir di sepanjang sisi sungai sambil menyentuh dagu. Memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyeberangi arus deras sungai yang kecepatannya sungguh di luar nalar.
"Sekali masuk, tubuh ini akan terseret bahkan sebelum melangkah," ucap Xander bernada rendah.
Xander mendongakkan kepala sedikit, pandangannya menyapu dari kanan ke arah kiri, bahkan tak ada tanaman rambat atau batang pohon menjulur dari sisi seberang daratan. Daratan seberang terlalu terisolasi, belum lagi tertutup kabut tebal menambah sensasi misterius seakan daratan yang tak pernah disentuh.
Tak ada cara apa pun yang tepat untuk menyeberang, Xander memutuskan menelusuri sepanjang sisi sungai, ia mengambil jalur kanan. Arah yang sama ditempuh oleh Reida tadi.
Perjalanan jauh kembali ditempuh, hanya arus deras sungai yang sangat panjang seolah-olah daratan terpotong sungai tanpa ada ujung. Terkadang, dalam sepersekian detik, Xander berpikir akan balik badan, tetapi masih ada rasa malu oleh tekad dan rasa hormat terhadap Aiden. Tekad tersebut menjadi satu-satunya alasan untuk terus bergerak dan maju, meski tanpa kepastian yang jelas.
"Sungguh. Andai diriku tak malu dengan janji tekad dan rasa hormatku pada Aiden, mungkin kuurungkan saja perjalananku ini," ucap Xander dalam hati.
Konsisten dan keteguhan memang diperlukan untuk saat-saat seperti ini, pikirnya. Harapan adalah pembakaran energi untuk terus melakukan sesuatu, meski di depan sana, kabut tebal menghalangi jalan yang tak pernah diketahui.
Xander berjalan hingga akhirnya bertemu hutan lebat, genggaman tangan pada pedangnya semakin erat. Dia tidak akan pernah tahu hal apa yang akan dihadapinya setelah ini.
Kesunyian melanda, tiupan nada angin tertahan oleh barisan pepohonan besar dan tergantikan oleh gemerisik dedaunan yang saling bergesekan satu sama lain. Selangkah demi selangkah, Xander terus melaju, memotong tanaman rambat apabila menghalangi perjalanannya.
Dalam perjalanan itu, Xander menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan, pohon besar di tengah hutan yang dikelilingi genangan air bening seluas lapangan. Uniknya, daun pohon tersebut bersinar karena berwarna biru muda, berkilauan seperti kristal.
"Indah sekali," gumamnya takjub.
Xander berdiri sejenak, memperhatikan pohon yang dirasa terlalu ajaib jika dibandingkan dengan pohon di Bumi. Pohon aneh tampaknya memang dimiliki oleh dunia Antah Berantah ini, Xander ingat tentang nama dunia ini dari tiga anomali yang sempat dibunuhnya demi bertahan hidup.
Valerath. Dunia ini bernama Valerath.
Akan tetapi, rasa takjubnya harus berakhir tatkala tumbuhan merambat membentuk sesuatu di sekitar pohon. Semacam makhluk yang tak dikenali Xander terbentuk, menjaga pohon unik tersebut. Ukurannya besar-besar, ia pun menjauh untuk menghindari pertempuran yang tak diperlukan.
"Aku harus bergegas," gumam Xander. Ia berjalan membungkuk dan bergerak perlahan.