Xander memejamkan mata, meski napasnya sudah terengah-engah, ia mencoba kembali mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Saat terbuka, matanya melirik cepat ke arah pedang yang tertancap.
"Pertama ... ambil pedang dulu dan kembali menyerangnya!" pikir Xander.
Reida berdiri dengan tenang, ia sadar bahwa Xander mengincar pedangnya yang tadi sempat terlempar jauh dalam pertarungan. Namun, Reida sengaja membiarkan Xander melakukan itu. Penasaran sampai sejauh mana tekad bocah itu untuk bisa menginjak Benua Hitam dan menyelamatkan rekannya, meski itu rencana konyol.
"Xander. Larilah sekuat tenaga!" ucap Xander dalam hati demi menguatkan tekad.
Tubuhnya remuk redam, sesekali penglihatannya mengabur, dan ritme napas saja sudah tak beraturan. Namun, Xander tetap bangkit dan berlari sempoyongan ke arah senjatanya yang tertancap.
Meski gerakannya tak beraturan, lambat, dan kurang presisi. Xander mengayunkan pedang ke arah Reida, tentu saja menghindari serangan seperti itu sangatlah mudah bagi Reida.
Reida ingin membuktikan bahwa metodenya sudah benar seratus persen. Ia mulai melihat bagaimana Xander kepayahan dalam menyerang, menggunakan pedang pun secara acak dan serangannya tidak pernah mengenai Reida sedikit pun.
"Sudah saatnya kekuatan yang tersembunyi itu muncul. Bukankah aku telah membuatmu terpojok?" pikir Reida dalam hati sambil dengan santai menghindari serangan-serangan dari Xander.
Satu gerakan tusukan dari Xander dilancarkan. Bersamaan dengan itu, Reida akan mengakhirinya jauh lebih menekan, ia mencabut pedang di pinggangnya dan menghalau dengan seluruh kekuatan. Pedang Xander kembali terlempar dan berputar-putar di udara. Kali ini terlempar dengan sangat jauh sekali.
Dada Xander menjadi sesak, tangannya terkepal. Ingin sekali ia meninju dengan sekuat tenaga pada pendekar yang berada di dekatnya saat ini. Namun, tinju itu tak pernah sampai, Xander terpelanting sesaat gagang pedang Reida menabrak pelipisnya dengan sangat keras.
Xander jatuh tersungkur, tenaganya sudah hampir habis. Reida kembali menyarungkan pedang, tatapannya jauh lebih dingin, dan berjalan pelan ke arah Xander.
"A-Apa yang ... kau inginkan ... sebenarnya!" kata Xander bersusah payah.
"Potensimu ... tentu saja," balas Reida sembari menyipitkan matanya.
Xander bisa melihatnya, binar mata yang mengharapkan sesuatu terjadi. Namun, apa yang diharapkan? Dirinya bahkan tidak mengerti potensi apa yang dibicarakan pendekar tersebut. Bukankah dunia Valerath yang brutal ini akan menyingkirkan siapa saja yang lemah. Kesempatan membunuh dia saat ini jelas sudah seratus persen.
"Apa yang menahanmu sebenarnya?" pikir Xander penasaran.
Tangan Xander dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya meremas jubah Reida. "Lakukan sekarang ... atau biarkan aku ... menyeberangi jembatan itu!"
Reida mengangkat alis. "Apa? Kenapa potensi itu tidak muncul di saat kritis?"
Reida bertanya-tanya mengapa metodenya tidak berhasil. Seharusnya potensinya terbangun dalam keadaan terpojok seperti ini, bagaimana pun kondisinya. Namun, apa yang ia lihat sekarang? Nada keputusasaan dan meminta membunuhnya. Mengecewakan.
"Baiklah jika itu keinginanmu." Reida membalas.
Reida kembali menarik pedangnya, tetapi Xander justru tersenyum tipis. Bagaimana mungkin seseorang yang akan segera dibunuh mampu tersenyum di saat-saat terakhir. Apa bocah remaja ini tidak waras?
"Bagaimana mungkin kau menyempatkan di saat-saat terakhir bisa tersenyum? Apa alasannya?" tanya Reida. Pedangnya sudah terangkat tinggi-tinggi, siap mengayunkan.