Udara pagi menyapa hidung Xander, terlalu fresh saat ia menghirup dalam-dalam. Sayup-sayup suara kibasan pedang bak membelah angin, pedang terayun kuat namun berpola. Seperti ksatria mengalunkan alat musik, bernada, dan memecah ketentraman di pagi hari.
Xander hanya mampu berbaring semalaman, badannya benar-benar remuk redam setelah dihajar habis-habisan oleh pendekar aneh yang menghadangnya di jembatan. Paginya ia hanya mampu duduk sambil melihat Reida berlatih pedang.
"Gerakan itu ...!" Xander sedikit mengingat gerakan dasar yang pernah diajarkan Aiden.
"Kau pasti cukup akrab melihat gerakan-gerakan tadi. Benar 'kan?" Reida menoleh saat menyadari Xander duduk dan memperhatikannya saat berlatih.
"Apa maksudmu?" Xander menyipitkan mata. Perasaan skeptis masih membayangi.
Reida hanya tersenyum tipis, ia kembali melakukan gerakan latihan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Namun, sepanjang latihan tersebut Reida banyak memperlihatkan gerakan baru, membuat Xander paham mengapa dirinya bisa dikalahkan dengan begitu mudahnya.
"Dengan keadaanmu yang sekarang, pergi ke Benua Hitam hanya akan mengantar nyawamu saja. Modal tekad itu tidaklah rasional," ujar Reida yang masih bergerak lincah mengayun-ayunkan pedangnya.
"Hei. Yang membuat tubuhku rusak seperti ini adalah kau!" seru Xander. "Bertanggung jawablah!"
Reida menghentikan latihannya, pedangnya ia kembali sarungkan. "Apakah tubuh lemahmu menjadi kesalahanku juga?"
"Kau sendiri menghajar dengan membabi buta seperti itu. Setidaknya rawat lukaku sampai sembuh," balas Xander tak mau mengalah.
"Kau cerewet. Seperti wanita," pungkas Reida.
Xander menatap lekat Reida yang mendekati dirinya perlahan. Saat itu tangan Reida menekuk-nekuk pelan di beberapa bagian tubuh Xander sambil memperhatikan sesuatu.
"Tidak seburuk itu kurasa," ujarnya pendek.
Xander terdiam. Sedangkan Reida sibuk mencoret-coret sesuatu dengan jari telunjuknya di atas tanah.
"Apa yang dilakukannya?" pikir Xander.
Dalam beberapa gerakan yang tidak dimengerti Xander, Reida tengah melakukan sesuatu. Bagian mengejutkan adalah munculnya sinar redup, Xander sampai mengangkat alisnya.
Reida hendak mengeluarkan sesuatu, mirip seperti saat dia mengeluarkan sebilah pisau di kuil. Dengan sebuah mantra sederhana, Reida kembali mengeluarkan sebuah benda berbentuk botol kecil berisi cairan berwarna kuning.
"Apa itu?" tanya Xander.
"Minumlah," ujar Reida sambil menyodorkan benda yang digenggamnya.
"Kau ingin meracuniku?" Xander bertingkah waspada.
"Aku tak perlu repot-repot meracunimu jika hanya ingin sekadar membunuhmu. Mengerti!" jelas Reida yang hanya menaruh botol di dekat Xander.