Reida mengangkat pedang dengan kedua tangan, sejajar di telinga kirinya. Lalu, maju selangkah lebih dulu, sosok Ren bertindak defensif. Kedua bilah pedang bertemu untuk beradu. Suara berdentang beberapa kali terdengar.
Ayunan pedang dari atas mencoba menyerang kepala dari sosok Ren. Namun, berhasil dihalau dengan menepis oleh pedang secara horizontal. Reida melanjutkan dengan mengayun dari arah kiri bawah menuju kanan atas.
Sosok Ren justru tidak terprediksi oleh Reida. Bukan menghalau dengan pedang yang posisinya sangat mudah untuk digunakan sebagai penghalau, justru memilih badan bergerak untuk menghindari serangan.
"Kau meremehkanku?" pikir Reida.
Kesempatan bagus untuk Reida yang langsung menurunkan ayunan saat tubuh sosok Ren terbuka lebar tanpa pertahanan. Bahu kiri terkena sayatan pedang, cairan kental berwarna merah muncul perlahan dari satu goresan tersebut.
Sosok Ren menjauh sambil menekan pelan bahu kirinya yang terluka. Sedangkan Reida mengacungkan pedang lurus ke depan, ke arah Ren dengan tatapan mata yang tajam.
Reida kembali memburu sosok Ren. Gerakannya efisien, bahkan hanya dengan tenaga yang minim. Setiap ayunan dan gerakan punya tujuan seperti membaca gerakan lawan, menekan, bahkan mengunci ruang gerak.
Akan tetapi, Reida menemui banyak kejanggalan dalam satu pertarungan tersebut. Sosok Ren selalu terlambat membaca serangan, menangkis dengan posisi yang salah, saat mencoba membalas serangan ... ayunan pedang seorang pendekar terlalu lebar dan mudah ditebak.
Reida sedari tadi bergerak dengan cepat dan penuh perhitungan. Sosok Ren justru memperlihatkan kepanikan yang meningkat, napas tidak teratur, dan dominan selalu bertahan dari serangan, bukan menyerang.
"Ada yang salah dengan cara bertarung seorang pendekar," gumam Reida merasa terusik semua gerakan ceroboh sosok lawan yang ada di hadapannya.
Di sisi lain, Xander berada di posisi terpojok. Bahu kirinya terluka setelah dicecar serangan oleh sosok Aiden. Sosok itu kembali melanjutkan serangan dengan gerakan menusuk cepat. Xander nyaris terlambat menghindar.
Xander membalas dengan tebasan horizontal, kakinya sedikit bergeser hingga menimbulkan percik debu pasir. Sosok Aiden dengan mudah menahan serangan itu, terlebih ... karena terlalu lebar, sosok Aiden memutar pergelangan dan menjatuhkan arah pedang Xander, suara logam terdengar teredam saat pedangnya jatuh di atas pasir.
Xander mundur tersandung tumpukan pasir dengan mudahnya. Di sisi lain, Reida telah berdiri di hadapan sosok Ren sambil mengacungkan pedang, ujung bilah pedang hanya satu jengkal dekat dengan tenggorokan Ren.
"Siapa kau sebenarnya?" Reida bergumam, nadanya nyaris tak terdengar.
Reida menatap lekat mata pada wajah sosok Ren, seorang pendekar dari bangsa Malopolic yang sebelumnya pernah ia kejar dan gagal mendapatkan kitab Zyguba dari tangannya.
"Gerakanmu sungguh payah dan juga lemah. Kau terlalu meremehkanku?" tanya Reida dengan meninggikan nada suaranya.
Sosok Ren yang dilihatnya diam seribu bahasa. Namun, mulutnya hanya bisa menyeringai lebar sampai gigi terlihat. Membuat Reida semakin kesal dibuatnya.
Ren menyeringai seakan mengejek Reida dan mengundangnya untuk segera membunuhnya saat itu juga. Kini, bilah pedangnya tepat menyentuh tenggorokan sosok Ren, darah tipis mencuat dari kulit yang tergores.