VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #15

Bab 15 - Aturan di Benua Hitam

Saat gerakan jari telunjuknya nyaris membentuk gambar lingkaran sempurna, mantranya luntur, mana lenyap sekejap, seakan formula Vein tidak bisa digunakan.

"Apa yang terjadi?" Raut wajahnya cemas.

Alis Reida tertaut, dahinya mengerut, sedikit noda darah menghiasi sudut bibirnya. Ia mencobanya sekali lagi, membuat pola lingkaran. Namun, sia-sia saja, setiap kali nyaris selesai, mantra formulanya luntur.

Kabut yang menyelimuti bergerak perlahan menjauh. Seakan kembali ke posisi semula, menjaga ujung daratan benua. Tekanan atmosfer berubah menjadi berat, suhu menurun menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

Sejak kabut menipis dan menghilang, Reida mampu melihat dengan jelas keadaan sekitar. Termasuk sosok Ren yang telah kembai ke sosok asli, Xander. Reida melihat sekitar, hanya tampak daratan kelam dengan batu dan tanah abu-abu gelap. Dihiasi beberapa pohon yang nyaris hitam seperti membusuk.

Reida menangkap firasat buruk. Keheningan terpecah tatkala geraman keras dari sesuatu yang ada di belakang Reida.

Dengan sigap Reida mengangkat tubuh Xander yang terbaring lemah dengan kedua tangan dan melompat untuk menghindari sebuah tepukan dari atas. Mirip seperti kaki hewan buas berukuran besar, tanah bergetar hingga membuat retakan, dan debu beterbangan.

Di balik sosok debu yang terbang di udara, mata merah menyala seakan memburu sesuatu.

"Cih!" Reida berdecak kesal.

Sosok besar muncul dari balik debu yang menggumpal. Tubuh itu mirip serigala raksasa berbulu perak dan Reida merasakan aura kegelapan darinya.

Xander menekan dadanya yang terluka sambil meringis menahan sakit. "Jangan pedulikan aku. Pergilah selamatkan dirimu sendiri sesuai kesepakatan!"

"Diamlah, bodoh!" Reida menyela.

Reida kembali melompat jauh, menjaga jarak dari makhluk besar yang kini membayang-bayangi kehidupan keduanya. Xander disandarkan di bawah sebuah batang pohon, setelah itu Reida bersiap dengan pedangnya.

Reida mengangkat pedangnya sejajar bahu. Makhluk itu tidak langsung menerjang, tetapi membuat bulu-bulunya berdiri.

"Apa yang akan ia lakukan?" Mata Reida fokus menatap perubahan pada bulu-bulu makhluk besar yang ada di hadapannya.

Xander melihatnya, punggung si Pendekar tampak gagah bagai dinding tembok yang kuat siap menahan serangan apa pun.

Bak angin menyisir ilalang, kemudian terhenti. Dalam sekejap, sebagian bulu perak itu terlepas dari tubuhnya. Serangan tertuju pada satu titik, tempat di mana Reida berdiri kokoh.

Lihat selengkapnya