Reida dan Tettom beradu pandang, tatapan keduanya menyiratkan sebuah pertanyaan dalam benak yang sulit diungkapkan. Xander roboh setelah memperlihatkan sesuatu yang bagi mereka sangatlah tidak terduga.
Suasana menjadi hening. Hanya suara desiran angin yang meniup kencang dari arah kiri, membuat rambut perak Reida yang panjang bergerak melambai-lambai ke kanan.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Tettom tiba-tiba.
Reida terdiam sejenak, berusaha menerka dengan bijak pertanyaan yang dilemparkan Tettom. Ia ingin memanfaatkan situasi apa pun agar terbebas dari kondisi terjepit saat ini.
Tettom tidak mempertanyakan kembali, tetapi tatapannya mengarah tajam ke arah Reida.
"Kurasa kau mampu menilai dengan baik tentangnya." Reida berdiri sambil menyunggingkan senyum.
"Kau cerdik, Pendekar. Siapa namamu?" Mata Tettom sedikit menyipit.
"Reida!" jawabnya tegas.
"Meski pun begitu ... adalah tindakan yang bodoh membawanya ke tempat ini. Sungguh ... apa yang kau cari dari benua ini?" Tettom kembali melempar pertanyaan.
"Aku hanya ingin mengasah keteguhan dan kekuatan mentalnya semata. Selebihnya dia hanyalah orang bodoh yang tidak mengerti situasi," jawab Reida seraya menyeka beberapa noda darah di bagian tubuhnya.
Tettom tertawa pelan, suara yang ditimbulkannya sedikit menggema.
"Apa kita tidak perlu bertarung lagi?" tanya Reida.
"Bersyukurlah aku sedang bosan membunuh sesuatu," ucap Tettom bernada datar dengan sebuah kebohongan yang tersirat.
Benarkah begitu? Pikir Reida sambil menyunggingkan sudut bibirnya sedikit. Dalam benak justru ia berpikir bahwa Tettom tertarik pada bocah satu itu.
"Sayang sekali, bocah itu diambang kematian. Kekuatan mana ditekan di sini, aku tak mampu melakukan apa pun untuk menolongnya," papar Reida berusaha memancing agar Tettom segera bertindak.
Dengan kekuatan dahsyat Tettom, ukuran tangannya yang besar memungut tubuh Xander. Bulu-bulu perak di bagian leher mengembang dan kemudian membentuk garis panjang yang meruncing.
Reida menyaksikan apa tindakan Tettom terhadap Xander. Dengan kemampuannya yang lain, luka tebasan di dada Xander ia jahit agar tertutup. Namun, kondisinya tetap masih mengkhawatirkan.
"Kenapa kau menolongnya?" tanya Reida setelah Tettom menjahit luka Xander.
"Cih. Semua ini tetaplah ada harganya!" jawab Tettom dengan menyeringai lebar.
Reida telah menduganya. Matanya menatap tajam ke arah Tettom. "Sebuah kesepakatan?"
Tettom tertawa renyah mendengar pertanyaan Reida. Namun, untuk memuaskan pertanyaan tersebut ia pun menjawab, "Sekali-sekali, jangan pernah berpikir kalian bisa keluar dari daratan ini."
Jawaban itu membuat Reida semakin yakin bahwa Tettom menilai bocah itu dengan sangat berharga. Ada sesuatu yang disembunyikannya atau mungkin sesuatu alasan yang sama persis seperti dirinya, memanfaatkan sesuatu.
Setelah tindakannya menolong Xander dari ambang kematian, ia kembali menyerahkan tubuh bocah itu ke tanah daratan.
"Menjahit lukanya tidak akan menyembuhkan, tetapi hanya melewati masa kritis," ujar Tettom.
"Aku bisa menolongnya dan menghentikan penyerangan terhadapmu," lanjut Tettom.