Koh terbang melintasi daratan Benua Hitam sembari membawa Reida dan Xander yang bertengger di kakinya, dengan cara memegangi kaki Koh yang kuat dan besar masing-masing.
"Jelaskan. Benda semacam apa yang harus kita cari, Koh!" pinta Reida yang berpegang erat pada kaki kiri Koh.
"Apa kita harus pergi dengan cara seperti ini?" sela Xander merengek, kedua lengan melingkar erat pada kaki Koh agar tidak merosot dan jatuh.
"Semacam relik yang hilang dari peradaban. Berwarna merah darah, seperti mutiara. Kami menyebutnya Raktabhista," papar Koh.
Dibawa terbang dengan kecepatan tinggi membuat rambut peraknya terulur dan melambai-lambai di langit. Raut wajah Reida menyiratkan sesuatu yang kurang menyenangkan, terlalu banyak adegan yang mungkin saja bisa terjadi berebut dalam renungannya.
Koh yang terbang mulai melewati beberapa area seperti hutan dan area berbatu. Sebelum akhirnya menuju sebuah area yang disebut Zona Tersembunyi.
"Mulai terlihat. Itu dia," ucap Koh sambil menunjuk ke bawah.
Daratan yang ditunjuk berwarna merah dengan bebatuan padat.
"Zona Lavlare," gumam Reida menautkan kedua alis.
Koh perlahan turun, debu di sekitar terbang pelan saat kakinya menginjak daratan.
"Di sinikah benda yang begitu kau inginkan?" tanya Reida.
"Ya. Mungkin benda yang kuinginkan itu jauh berada di pusatnya," jawab Koh.
"Lalu ... bagaimana dengan yang kami cari?" tanya Reida yang berjalan beriringan dengan Koh, sedangkan xander berada agak jauh di belakang.
Koh melirik sekilas ke arah Reida. "Jawabannya akan segera kau temukan. Percayalah."
Koh tersenyum tipis. Ada sesuatu yang disembunyikannya dari mereka berdua. Reida sedikit memperlambat jalannya dan membiarkan Koh memimpin, sehingga kini Xander berjalan tepat di sebelahnya.
"Apa yang akan kau lakukan jika menemukan Aiden?" tanya Reida.
"Huh?" Xander melirik aneh pada Reida. "Tentu saja aku senang. Bukankah memang itu tujuanku dari awal."
"Bukan itu. Sesuatu bisa saja terjadi, kau tidak memikirkannya?" Reida menautkan kedua alisnya.
"Memangnya apa yang akan terjadi pada Aiden? Jangan mempengaruhiku dengan sesuatu yang negatif," kata Xander.
Reida terdiam. Batinnya terganggu dengan cara berpikir Xander yang terlalu pendek dan naif. Namun, ia bisa apa dengan semua itu.
Bocah di sampingnya berpikir bahwa semua akan baik-baik saja seperti yang ada di pikirannya. Jelas itu pemikiran yang bodoh bagi Reida. Xander kurang paham dan kurang berpengalaman.
Koh sepertinya mendengarkan obrolan singkat itu, kemudian menoleh ke belakang dan berkata, "Dengarkan kata-kata dia, Bocah. Karena di tempat ini, apa pun bisa terjadi."
Selanjutnya Koh terkekeh pelan. Namun, Xander membantah bahwa tidak akan ada hal yang buruk dan meminta Koh untuk tidak mencampuri urusannya.
"Terserah saja. Kau terlalu takut terluka," kata Koh bernada datar.
"Apa masih jauh?" tanya Xander dengan ketus.
Koh tidak menjawab apa pun dan terus berjalan. Hingga akhirnya mereka bertiga memasuki area yang segalanya terang berwarna merah gelap.