VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #19

Bab 19 - Pilihan Hidup

Menjauh dari sarang kepompong yang dikuasai Aiden dan semua ketidaknormalannya, Reida mencari area yang sekiranya cukup aman dari gangguan.


Xander disandarkan di sebuah pohon tanpa dedaunan sembari menekan pelan leher kiri yang tersengat oleh tindakan Aiden sebelumnya.


"Tidak. Bisa saja itu bukan Aiden," gumam Xander meski tangannya menempel ke leher kiri, pandangannya kosong.


Reida berdiri menatap tanpa berkata apa pun. Hanya mendengar gumaman seseorang yang mentalnya terganggu dan belum siap menerima kenyataan.


"Kalau saja aku lebih cepat—" Xander tak melanjutkan, nada menyalahkan diri lebih kental di banding darahnya sendiri.


Tak kuasa mendengar ocehan keputusasaan, Reida melayangkan satu tamparan keras. "Kendalikan dirimu. Kau belum berakhir!"


Xander terdiam dan menatap kosong, bayangan Aiden masih muncul di kepala Xander, tapi dalam bentuk yang rusak dan masih belum bisa menerima kenyataan itu.


Panas tubuh Xander terasa tidak normal, ia mulai merasakan ada gerakan lambat di sekitar sengatan.


"Apa ada makhluk lain di dalam tubuhku?" tanya Xander pelan kemudian terbatuk dan memuntahkan darah.


"Kau disengat. Kau lengah, Xander," ujar Reida dengan raut kecewa.


"Apa itu artinya aku akan menjadi mayat dan mati?" Xander menatap ceceran darah di tanah yang keluar setelah batuk.


Reida tak menjawabnya, tetapi berlutut pelan dengan lutut kanan menyentuh tanah. Kedua tangan Reida memegang kepala Xander dan menyuruhnya memperlihatkan luka sengatan.


"Tak salah lagi," gumam Reida pelan saat melihat beberapa serat-serat merah mengelilingi bintik sengatan dalam jumlah kecil.


"Kalau aku akan segera mati, pergilah," pinta Xander sambil membuang muka.


"Apa maksudmu?" Reida mengerutkan dahi, bangkit berdiri dan memunggungi Xander.


"Sudah jelas 'kan! Aiden sudah tiada, tak ada alasan bagiku juga untuk meneruskan semuanya," pungkas Xander.


Xander berpikir bahwa tujuannya telah selesai. Tak ada lagi hal yang bisa ia lakukan setelah ini. Terlebih tubuhnya sudah terkena infeksi, cepat atau lambat Xander akan segera menyusul Aiden. Wajahnya tersenyum tipis, seakan menantikan kematian dengan penuh sukacita.


"Kau berniat mengingkari janjimu? Ingat kau sedang bertaruh denganku," tegas Reida.


"Bukankah sama saja? Kau menginginkan nyawaku pada akhirnya," balas Xander seraya merentangkan kedua tangan, layaknya orang yang pasrah untuk dicabut nyawanya kapan saja.


"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku menginginkan kematianmu sekarang?" Reida tersenyum tipis.


Xander hanya menatap dan terdiam. Seakan memikirkan apa sebenarnya yang diinginkan pendekar menyebalkan yang ada di hadapannya itu.


"Mungkinkah kau ingin melihat aku tersiksa sebelum kematian sendiri itu datang?" Xander mencoba menebak.


"Hahaha ... lebih dari itu kurasa," sahut Reida tertawa lepas.


"Keinginan bodoh. Jangan bercanda!" umpat Xander menanggapi tawa Reida tadi.


Reida menghadapkan tubuhnya ke depan Xander dan berkata, "Bayaranmu terlalu murah jika hanya dengan kematian!"


"Lantas apa?" sela Xander cepat. Sedikitnya napas begitu memburu padahal ia dalam keadaan istirahat.


"Menjadi pelayanku seumur hidup. Tak akan pernah kubiarkan kau mati semudah itu!" jawab Reida.


Xander menarik napas dalam, Reida bahkan jauh lebih mengerikan dari kematian itu sendiri, pikirnya.


"K-Kau. Sinting," umpat Xander.

Lihat selengkapnya