VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #20

Bab 20 - Lari

Untuk kesekian kalinya Xander kembali berlari. Lari menjauhi sesuatu yang mengganggunya, yang menyerangnya, atau mungkin yang mengintimidasinya.

Berlari selama tiga menit sudah membuat napasnya berat dan tersengal-sengal. Sesekali telapak tangan menopang lutut, embusan napas yang keluar dari mulut terdengar berkali-kali.

"Yang kulakukan ini sudah benar?" gumam Xander dalam hati. Beristirahat sebentar sambil mengatur napas.

Xander merasa berlari bukanlah jawaban, tetapi mengikuti arahan Reida terkesan demi bertahan. Bukankah sebelum itu dirinya mencoba berpasrah diri pada kehidupan.

Xander bahkan berkata menyerah saat itu.

Akan tetapi, lihat sekarang ... Xander berlari secepat yang ia bisa dan sekuat yang ia bisa. Seakan rasa bertahan hidup jauh lebih mendominasi dibandingkan menghadapi kematian.

Baginya sekarang tak ada waktu tersisa untuk bersikap bingung atau kehilangan arah. Reida berpesan untuk segera kembali ke kolam oase entah bagaimana caranya.

Kini, setiap kali Xander berhenti untuk mengambil napas dan menoleh ke belakang ... rasanya bayangan Reida selalu memaksanya terus berlari. Masalahnya infeksi Lavlare yang berada di tubuhnya pun semakin berkembang.

Ketika Xander mengalami kelelahan ekstrim, ia akan terbatuk dan memuntahkan darah. Kondisinya tidaklah bagus dalam keadaan seperti itu.

"Waktuku singkat. Antara terbunuh virus atau terbunuh oleh Tettom," gumam Xander saat menyeka darah yang keluar akibat terbatuk tadi.

Xander menoleh, jaraknya sudah sangat jauh tetapi wujud Tettom yang memang besar masih terlihat jelas.

"Sebenarnya, seberapa besar ukuran Tettom? Mengapa baru kusadari bahwa dia itu benar-benar monster yang sangat besar sekali," ucap Xander menggeleng pelan.

Dentuman keras yang menabrak tanah daratan masih bisa terdengar pelan oleh Xander dengan jarak sejauh itu. Ada sedikit rasa khawatir pada Reida yang memilih menghadapi Tettom secara langsung.

"Tidak. Tugasku hanya kembali ke kolam oase itu," gumam Xander seraya memejamkan mata sesaat.

Xander lanjut berlari meski dengan kecepatan yang semakin berkurang. Setidaknya ia harus melewati satu area lagi apabila telah mencapai di perbatasan wilayah daratan bebatuan.

Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan, Reida dengan gesitnya menghindari serangan pamungkas Tettom yaitu hujan duri dari bulu-bulunya. Meski lengan kiri dan bahu kanan tergores karena sesulit itu menghindari semua serangan yang secara bertubi-tubi.

Lihat selengkapnya