Xander tahu ini bukan sekadar kelelahan. Tubuhnya sedang berhenti menjadi miliknya. Kaki kiri enggan bergerak. Denyut jantung saja nyaris tak bisa ia rasakan. Bola mata melirik ke bawah. Pandangan buram, bagaikan melihat dari balik derasnya air terjun.
"Apa waktuku telah habis?" gumam Xander dalam hati.
Telinganya hanya mampu mendengar gemerisik dedaunan yang berserakan di tanah karena tertiup angin kencang. Pikirannya terlempar kembali saat dirinya dan Reida berada di kaki Koh untuk terbang.
"Papan batu yang kau temukan di kolam oase. Ingat saja tempat itu jika sesuatu terjadi," ungkap Reida saat itu.
"Ada apa dengan batu itu? Bukankah kita dilarang mendekatinya," balas Xander.
"Dengan menuliskan sesuatu, papan batu itu akan memberimu pengalaman baru," kata Reida datar.
Ingatan itu terlintas begitu saja, tetapi sekarang kaki dan tubuhnya saja sulit digerakkan. Bagaimana caranya Xander mendatangi tempat yang telah mereka sepakati?
Infeksi itu telah mengambil alih pergerakannya, tetapi hati dan jiwanya masih tersisa. Hanya tinggal soal waktu, ia akan mengalami hal sama seperti Aiden.
Xander memejamkan mata perlahan, karena menurutnya tubuh sudah tak bisa digerakkan ... tanda semua akan segera berakhir. Namun, ingatan beberapa saat lalu kembali menghantam pikirannya. Kejadian sebelum Xander lari terlebih dahulu dan meninggalkan Reida menghadapi Tettom.
"Tuliskan sebuah mantra formula di papan batu nanti, itu bisa menyelamatkan kita berdua nanti," bisik Reida. Suaranya menggema dalam pikiran Xander.
Mata Xander kembali terbuka, tugasnya kali ini menyangkut keselamatan dirinya dan Reida.
"Reida telah mempercayaiku untuk menyelesaikan tugas ini. Jangan menyerah dulu," pikir Xander. Paling tidak, ia bisa membalas jasa terhadap Reida.
Tangan kanannya bergerak perlahan, kelima jemari bergoyang pelan untuk memastikan bahwa tubuhnya masih mampu dikendalikan. Xander menggertakan giginya, berusaha agar tangan kanannya bisa digerakkan.
Pada lehernya, ada sesuatu yang menggeliat bergerak. Seperti benda berukuran panjang, bergerak dengan gerakan terbatas. Ada rasa sakit dan ngilu sekaligus geli saat benda itu bergerak. Membuat Xander lebih keras lagi untuk menggerakkan tangan kanannya. Di saat tangannya telah berada dalam kendali penuh, ia menyentuh leher kirinya dan meraba sesuatu.
Kesal dengan makhluk yang terus bergerak di dalam kulitnya, dengan sekuat tenaga ia meremas benda yang terasa panjang tersebut. Dengan cekatan, Xander berhasil mencapit bagian ujungnya dan dengan sekuat tenaga menariknya dengan paksa.
"Kena kau!" Xander berdesis.