Xander masih berusaha keras mencari tulisan atau kode yang mungkin ditinggalkan oleh Reida. Namun, sulit sekali ditemukan.
"Apa ia benar-benar lupa atau ia memang seceroboh itu?" tanya Xander dalam hati. Bola matanya bergerak-gerak saat mencari.
Reida sendiri sekarang meraih bulu besi yang menancap betis dan menariknya. Lukanya membuat kecepatan berlari Reida sedikit menurun.
Dengan gagahnya Reida menangkis serangan bulu-bulu berduri, apalagi ia memainkan dua pedang secara bersamaan. Tettom terus berusaha mencegah lawannya untuk berlari dengan mencoba ingin menepuknya sampai mati, jika kena.
Tettom menepuk keras ke tanah di mana posisi Reida berlari, tetapi pendekar itu berguling ke kiri dan menghindari serangan fatal. Namun, itu membuatnya semakin tertahan sedangkan kabut tipis semakin mendekat.
"Sudah tak ada waktu lagi!" gumam Reida.
Di sisi lain, Xander masih belum menemukan apa yang ia cari. Namun, ia pun merasakan dan melihat dari kejauhan kabut tipis seperti hendak menyelimuti daratan ini.
"Gawat!" Xander merasa kehabisan waktu.
Bagi Xander, setidaknya untuk kali ini saja membayar jasa pada seseorang yang pernah menolongnya. Ia pernah gagal menolong Aiden. Sekali ini saja, ia ingin usahanya berhasil meski belum sedekat itu dengan Reida.
Xander merasa gusar, belum lagi ia mulai kembali terbatuk-batuk sambil memuntahkan darah. Penglihatannya pun memudar. Napasnya tersengal-sengal. Dari dalam tanah di pinggir kolam, muncul sesuatu semacam ulat warna ungu bertanduk mungil.
"Kau mencari sebuah tulisan 'kan?" tanya makhluk mungil dengan suara imut dan terkesan lucu.
"Eh?" Xander terkejut. "Kau tahu?"
"Jika aku memberitahumu, izinkan aku ikut bersamamu!" pintanya.
Karena tak ada waktu lagi, Xander mengangguk mengiyakan. Lantas makhluk mungil itu menunjukkan sesuatu pada Xander. Ia menggerakkan tubuhnya ke tanah dan mengukir sesuatu di atasnya.
Setelah selesai, makhluk itu berkata, "Seperti inilah ukirannya dan kau harus mengukirnya pada papan batu itu!"
Xander mengamati perlahan. Jika dihitung secara pemikirannya, hanya ada empat karakter. Namun, bentuknya agak sulit buat diingat. Yang pertama membuat setengah lingkaran dari atas geser searah jarum jam hingga berhenti di arah jam enam. Ditengahnya diberikan bulatan titik.
Satu per satu Xander mencoba mengingat bentuk ukiran lainnya. Setelah merasa yakin, ia mengulurkan tangan dan membiarkan makhluk mungil itu menaiki punggung tangannya.
"Kau sangat lucu," kata Xander. "Siapa namamu?"
"Puu!" jawabnya dengan nada menggemaskan.
"Tapi, kenapa kau membantuku?" tanya Xander lagi.