Xander terlentang. Sehelai bulu besi menancap tegak di dadanya. Rumput-rumput biru yang tinggi bergoyang pelan tertiup angin. Reida berguling-guling di rerumputan dengan titik lokasi agak berjarak dengan Xander. Kedua bilah pedang juga bertebaran di tempat berbeda karena terlempar.
"Pendaratan yang tidak mulus," ucap Reida mencoba menghentikan tubuhnya yang mulai berguling pelan.
Ada jeda sesaat sebelum akhirnya pendekar itu berdiri menapaki tanah daratan baru.
"Xander!" Reida terkesiap tatkala melihat Xander terkapar kritis dengan sehelai bulu besi Tettom yang menancap di dadanya. Panik.
Ia berlari pelan dan mendekati Xander untuk melihat keadaannya. Telinganya ia tempelkan ke dada. Reida bergumam "Masih berdenyut!"
Reida diam sejenak, menarik napas untuk membuang rasa panik. Jika ingin menyelamatkan Xander dalam kondisi seperti itu, menghilangkan rasa panik dan cemas adalah langkah awal yang tepat.
Bola mata Reida melirik dan memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambut Xander. Kini, ia menghirup napas panjang dan memejamkan mata sesaat dan membuka matanya lagi.
"Bertahanlah dulu," bisik Reida. Tangannya menggenggam pelan sehelai bulu keras yang masih menancap.
Keringat di dahi Reida jatuh ke pelipis. Ia menelan ludah dan kembali menarik napas panjang.
Kepala Puu menyembul memperlihatkan dua tanduk mungilnya dari balik kerah baju Xander. "Kau hendak mencabutnya?"
Reida melirik pelan ke arah Puu tanpa berkata apa-apa. Kondisi kritis Xander bukan hanya disebabkan dadanya tertancap, tapi juga efek virus Lavlare yang bersemayam di tubuhnya. Membuat tubuhnya semakin lemah dan rapuh.
"Sungguh keajaiban kau masih mampu bertahan sampai sejauh ini," gumam Reida sambil menatap tidak percaya ke arah Xander.
Meski Xander terpejam menahan rasa sakit, ia sedikit mendengar gumaman Reida. Ia hanya memberikan senyum tipis saat itu.
Puu memandang dengan raut cemas serta binar mata yang terkesan takjub. Terlebih saat mendengar gumaman Reida tentang kondisi tubuh Xander.
"Kau setuju kan, Puu? Dia ini sebenarnya sangatlah kuat," ujar Reida.
"Kau ... benar." Puu mengangguk meski tatapannya membeku. Puu takjub.
Tangan Reida sempat gemetar sebelum mencabut bulu itu. Ada perasaan ragu yang belum bisa ia kendalikan. Ini pun menjadi pertanyaan baru baginya, kalaupun Xander mati, mengapa ia secemas dan seragu itu?
Reida mencoba mencabut dengan membuang keraguannya. Namun, bulu itu seperti tertahan, Xander bereaksi brutal membuat proses lebih sulit. Reida terpaksa mencabut paksa dan sedikit merobek kulit lebih terbuka, Xander mengerang dan cairan merah kental menyembur cukup deras.
"Setelah ini apa yang akan kau lakukan? Jika pendarahannya tidak dihentikan, ia bisa mati kapan saja!" seru Puu.
Ada jeda singkat saat menatap telapak tangannya. Reida bertanya-tanya apakah di daratan ini kemampuan mana bisa ia gunakan? Bola matanya melirik ke arah Xander yang semakin melemah.