Xander bergeming. Posisinya masih tertelungkup. Reida kembali dibuat panik dan segera membalikkan tubuh remaja itu dengan cepat.
Gerakan Reida terkunci dalam beberapa detik, ingin memastikan sesuatu. Ia menatap lekat dan menduga pernapasan Xander akan kembali normal setelah melewati masa kritis.
Satu detik. Dua. Tiga. Empat. Lima ...
Tiada sedikit gerakan apa pun. Tangan Reida mengguncang tubuh kecil itu agak keras. "Xander?"
"Hei. Xander!" Reida tetap megguncang-guncangkan tubuh kecil itu.
Tak ada respons. Napas Reida tertahan, tiupan angin malam menjadi jauh lebih kencang dari biasanya.
Untuk memastikan sesuatu, ia kembali menempelkan telinganya ke dada Xander. Masih ada sedikit denyut jantung, tapi sangat lemah.
"Sial!" Reida kembali mengangkat kepala, wajahnya pucat pasi.
Reida menarik tubuh Xander, membaringkannya lurus di tanah. Tangannya bergerak cepat seolah-olah berpacu dengan sesuatu yang tak terlihat.
"B-Bocah itu berhenti bernapas. Kenapa kau diam saja?" Puu bergerak ke arah dada dan melompat-lompat sekuat tenaga.
Sayangnya tubuh Puu terlalu kecil dan ringan untuk menekan-nekan agar Xander bisa kembali bernapas. Meski ia melompat dan niat menginjak sekuat tenaganya.
Tubuh Reida membeku sesaat.
"Kenapa diam saja, lakukan sesuatu!" pekik Puu meski tubuhnya masih meloncat-loncat.
Reida mengoyang cepat kepalanya, pikirannya kembali menyatu dan sadar bahwa ada yang harus ia lakukan sebelum semuanya terlambat. Pendekar itu menyingkrikan tubuh Puu dari dada Xander sampai terguling ke tanah.
Reida menekan dada Xander dengan telapak tangan. Tubuh Xander sedikit terangkat tiap tekanan, tapi tetap tidak ada reaksi.
"Bangun!" Tekanannya semakin keras.
Puu hanya menatap panik saat Reida bertindak agar denyut nadi Xander kembali berpacu dan mencoba mengembalikan kemampuan bernapasnya. Jika Xander tak melakukan itu, dia bisa mati kapan saja.
Reida menggertakkan gigi. Mana mulai berkumpul di telapak tangannya, bergetar tidak stabil.
"Andaikan denyutnya semakin lemah," gumam Reida, "terpaksa aku akan melakukan itu."
Telapak tangannya menyala biru pucat, lalu ditekan tepat di atas jantung Xander. "Na—"
Suaranya terhenti sepersekian detik. Ia ragu. Jika salah tindakan, jantung bocah itu bisa hancur. Perlu tekanan yang pas. Rahan Reida mengeras, hendak mengumpulkan tekad.
Reida terpejam sesaat, ketika terbuka kembali ... kumpulan mana di tangan membentuk suatu energi. Energi menghantam masuk ke dalam tubuh Xander.