VALERATH: ZYGUBA

R.J. Agathias
Chapter #25

Bab 25 - Yuzuha

Gadis itu melangkah pelan keluar dari persembunyian. Kakinya gemetar. Binar mata penuh keraguan. Ia mendekat ke arah Xander, tetapi pandangannya tertuju pada leher.

"Si-siapa kau!" pekik Puu yang sadar ketika melihat gadis itu semakin mendekat.

Xander membuka mata pelan. Tubuhnya belum bisa bergerak bebas, hanya bisa terduduk dan bersandar, matanya memperhatikan dengan waspada.

"Musuhkah?" pikir Xander.

Jemarinya bergerak sedikit. Namun, ia masih belum bisa bergerak bebas seperti sebelumnya. Seluruh tubuh Puu bergetar ... hendak melakukan sesuatu.

"Tutup telingamu serapat mungkin!" perintah Puu, nadanya melengking lebih tinggi.

Xander menaikkan alis. Ia belum bisa bergerak sepenuhnya. Mampu menggerakkan jemari saja itu sudah bersusah payah.

Sementara gadis aneh itu semakin mendekat, Puu melirik sebentar ke arah Xander dengan gerakan tubuh yang getarannya semakin cepat.

"Cepat! Tutup telingamu!" seru Puu, suaranya mengecil.

Seperti ancang-ancang akan melakukan sesuatu, Puu menarik napas kuat-kuat. Ia akan melakukan sesuatu.

"Apa yang akan kau lakukan Puu? Berteriak memanggil Reida?" Xander balas melirik ke arah Puu, tetapi ia heran dengan cara apa, Puu—makhluk sekecil itu—memanggil Reida.

Mulut Puu menganga lebar, dengan sekuat tenaga ia berteriak melengking bak terompet udara yang bersuara lantang dan nyaring. Teriakan jarak dekat itu membuat telinga Xander terasa 'mati' sesaat. Rasanya seperti ada yang menyumbat saluran telinga dengan kapas tebal.

"Puu ... kau brengsek!" umpat Xander dalam hati.

Kedua tangan gadis itu menggenggam erat pedangnya, alisnya tertaut dan merasakan bahwa makhluk kecil bersuara super itu pasti memanggil sesuatu atau seseorang.

"Kau! Hentikan teriakan itu!" pekiknya. Gadis yang seumuran dengan Xander itu bernama Yuzuha.

Di tempat lain, sesaat sebelum teriakan Puu dilontarkan ... Reida masih mencari beberapa makanan alami yang tumbuh dari pepohonan. Makhluk-makhluk kerdil berterbangan ke langit dan kemudian disusul suara teriakan Puu yang memekik dan nyaring.

"Teriakan?" Reida menoleh dengan penuh rasa curiga.

Reida terdiam sejenak untuk memastikan. Bola matanya melirik sekilas ke tanah.

"Jangan-jangan—" Merasa tidak tenang, Reida membungkus beberapa benda-benda bulat dan oval pada secarik kain dan mengantonginya.

Reida berbalik arah dan segera kembali ke tempat Xander.

Puu selesai dengan teriakan supernya. Sedangkan Yuzuha merasa terancam dan merasa sesuatu yang dia takutkan mendekat atas apa yang dilakukan makhluk mungil tersebut. Ia terus mendekati Xander, hingga Puu memberanikan diri melompat untuk menghadang Yuzuha yang semakin mendekat.

"Hyaaa!" pekik Puu mencoba menghadang.

Yuzuha menepis Puu yang maju mendekat dengan mengibas tangannya secara reflek. Makhluk kerdil mirip ulat itu jelas terlempar dengan mudah setelah menerima tamparan dari punggung tangan Yuzuha yang cepat dan keras.

Puu terjungkal sampai berguling-guling di atas rerumputan.

"Xander. Maaf. Fisikku terlalu kecil untuk menghadang musuh," gumam Puu saat terlempar.

Yuzuha terus mendekat. Satu-satunya hal yang membuat ia ingin terus mendekati Xander adalah rasa penasarannya pada serat-serat merah yang hinggap di leher Xander. Ia juga melihat ada sebuah tanda berpola aneh mengelilingi infeksi tersebut.

Yuzuha telah di hadapan Xander. Tangannya menyentuh pelan leher Xander sambil bergumam dalam hati. "Dari mana kau bisa mendapatkan infeksi ini?"

Untuk sesaat, Xander menatap gadis di hadapannya. Ada sesuatu yang salah dalam penilaian pertamanya terhadap orang yang ia anggap musuh atau semacamnya.

Lihat selengkapnya