Vallis - Bab 1 - Prolog

Prolog
Seekor rusa bergerak cepat, tergesa-gesa di hutan yang dipenuhi ranting ilalang. Tubuhnya tertancap anak panah dan mengeluarkan banyak darah.
Rusa itu memiliki bentuk yang unik: tubuhnya besar seperti kerbau, tetapi lebih ramping, sedangkan tanduknya seperti rusa; indah dan bercabang. Meskipun sedikit lebih ramping dari kerbau, ia bergerak sangat cepat, seolah sedang dikejar oleh hewan pemangsa atau seorang pemburu.
"Cepat! Dia menuju ke arah sini, Draven! Aku sudah melukainya; dia tak akan bisa berlari lebih jauh!" Zarven menyuruh Draven untuk bergegas supaya rusa yang dia panah tidak pergi terlalu jauh. Jantungnya berdetak kencang karena rasa senang; anak panah yang dia lepaskan menancap di bagian tubuh rusa tersebut.
"Tunggu aku, Kak!" kata Draven sembari berlari. Kakaknya berlari cukup kencang dan Draven sedikit kelelahan mengejarnya. Keringatnya sedikit menumpuk di dahinya.
"Kau sedikit lambat, Draven. Lihat ini! Ini bercak darah rusa itu. Pasti dia kehabisan darah saat aku memanah tubuhnya. Huahahah!" Zarven memperlihatkan bekas darah rusa buruannya yang menempel di dedaunan dan semak-semak. Rasa senang membuat senyumnya melebar. Mukanya sedikit memerah karena rasa senang akan mendapatkan hasil buruan yang sangat besar.
"Kau sangat hebat, Kak," puji Draven. Dia sangat mengagumi Zarven karena berhasil memanah tepat di tubuh rusa buruan mereka. Draven berpikir rusa tersebut tidak akan pergi terlalu jauh karena luka yang dia terima itu.
"Tentu saja! Aku adalah pemanah terkuat di desa ini. Saat aku sudah besar, aku akan menjadi kepala desa di sini! Huahaha."
Zarven memuji dirinya sendiri karena berhasil memanah rusa buruannya tersebut sambil tersenyum.
"Kau sangat keren, Kak. Aku juga akan menjadi orang yang kuat sama sepertimu nanti!" Draven mengatakan kepada Zarven bahwa dia ingin menjadi pemburu yang kuat dan hebat, sama seperti Zarven. Dia mengatakannya dengan penuh semangat.
"Tentu saja kau akan menjadi kuat sepertiku, Draven, karena kita adalah anggota dari Klan Thalrion, dari ras Dark Elf, dan penjaga Hutan Suci Qamaralya!" Zarven juga mengagumi impian Draven, karena dia pun mempunyai impian yang sama. Mereka berdua bertekad akan menjadi kuat dan hebat, sama seperti para tetua Klan Thalrion saat dewasa nanti.
Mereka berdua adalah ras Dark elf penjaga hutan suci Qamaralya di bagian Barat Laut dari benua Qamaralya fisik mereka sangat mirip manusia tapi memiliki perbedaan yang mencolok Kulit mereka berwarna coklat tembaga gelap yang menyatu sempurna dengan bayangan pepohonan. Mata mereka adalah ciri paling menonjol dari ras mereka mata mereka berwarna coklat amber, namun tak jarang juga muncul warna hitam pekat atau kuning zaitun, tergantung garis keturunan. Rambut mereka lurus, lembut, dan panjang, biasanya berwarna coklat keemasan yang akan tampak bersinar ketika terkena cahaya matahari.
Saat mereka menulusiri hutan dan mengikuti bercak darah dari rusa itu mereka melihat rusa buruan mereka tergletak kehabisan tenaga di semak semak tepat di sebelah pohon yang besar kerena anak panah itu tepat menancap di bagian tubuhya kerena itu darah mengucur di bagian perutya yang tertancap anak panah.
Bentuk rusa itu sangat indah. Matanya berwarna cokelat keemasan, dan bulunya mengikuti warna matanya, berwarna cokelat dengan sedikit gelap. Bagian ekornya sedikit berwarna putih kecokelatan, tetapi bentuk paling indah adalah tanduknya. Tanduknya seperti pohon agung yang besar, bercabang seperti ranting-ranting yang kuat dan kokoh. Tubuhnya yang sedikit besar, tak menyulitkannya dalam berlari menelusuri hutan yang rimbun.
"Sepertinya dia sudah kehabisan tenaga, Kak. Biar aku saja yang mengakhiri penderitaannya."
Draven mengambil pisau dari pinggangnya dan akan membunuh hewan buruan mereka. Namun, pada saat itu Kakaknya, Zarven, menghentikannya, karena dialah yang memanah rusa itu dan membuatnya tak bisa bergerak lagi.
"Hei, hei! Aku yang memanahnya, jadi aku yang berhak untuk membunuhnya, bukan kau! Hasil buruan hari ini adalah milikku, Draven!"
Zarven sedikit kesal kepada Draven dan mengingatkan Draven bahwa rusa ini dia yang melumpuhkannya. Sehingga, saat ingin membunuhnya, dia yang berhak melakukannya.
"Oke baiklah kau yang berhak kak tapi jangan lupa kau harus mengucapkan mantranya sebelum membunuhya itu juga adalah tradisi yang harus kita jaga untuk mendapatkan berkah dari para dewa dan penjaga hutan suci ini." Draven mengigatkan Zarven supaya tidak melupakan untuk membaca mantranya saat ingin membunuh hasil buruanya tersebut kerena itu adalah hal yang wajib di lakukan di suku dark elf.
"Baiklah aku tidak akan lupa,mengucap mantranyah hu" zarven kemudian mengucapkan matranya saat akan membunuh hewan buruanya tersebut dahiya berkringat kerena rasa senag mendapatkan buruan yang lumayan besar.
Dalam tradisi suku Dark Elf, setiap hewan buruan yang hendak dibunuh atau sudah terbunuh harus diucapkan mantra sesuai tradisi mereka. Mereka meyakini bahwa setiap makhluk hidup baik tumbuhan, hewan, maupun diri mereka sendiri memiliki roh dan setiap roh bersemayam dalam tubuh. Ketika roh keluar dari tubuh, maka ada tubuh yang ditinggalkan. Tubuh yang ditinggalkan ini kemudian akan menyatu dalam diri mereka melalui urat nadi, ( Sang pemburu) sementara roh buruan tersebut akan kembali pada Anjani

Zarven memegang leher rusa itu dan mengucapkan mantra sebelum membunuhya.
"Mani Ninu, Qamaralya.
Ninu wura 'ini laa 'iti tano dou, nahu mpisi dadi lele Anjani.
La'a rima ninu dadi re'e si'i, poro 'ai ndawu kita'u."
(Aku melihat dirimu dalam Jiwa Qamaralya rohmu akan meyatu dalam alam ini dan akan kembali kepada Anjani sementara tubuhmu akan tetep di sini dan meyatu dalam bagian dari diri kami.)
Matra itu terdengar seperti yanyian para roh hutan yang melindungi hutan suci ini
Setelah mengucapkan mantra itu, Zavron langsung menusukkan pisaunya ke leher rusa tersebut. Tubuh rusa tersebut sedikit tegang dan berontak. Kaki depan dan belakangnya menendang-nendang karena darah mengalir sangat deras dari lehernya, dan setelah beberapa saat, rusa itu kemudian mati.
Zavren yang melihat rusa itu sudah mati kemudian menusuk dada rusa tersebut untuk mengambil jantungnya. Tangannya memasuki organ dalam rusa tersebut, kemudian mengambil jantungnya yang masih hangat dan memperlihatkan kepada Draven sambil tersenyum..
"Lihatlah draven jatung rusa ini sangat besar hahahaha!!!"
Zarven tak bisa menyembunyikan rasa senangnya tersebut. Senyum dan tawanya menggema di rimbunnya Hutan Suci yang sangat besar ini. Tawanya membuat suasana sunyi hutan yang tenang dan rimbun menjadi bising
"Haha kau benar kak jantungya sangat besar kau pemburu yang hebat kak ibu dan ayah pasti sangat senang melihat hasil buruan kita kak" Draven juga ikut tertawa bersama Zarven, memperlihatkan rasa senang dengan hasil buruan mereka yang besar. Dia mulai memikirkan bagaimana nanti akan mendapatkan pujian dari ayah dan ibu mereka setelah sampai di rumah. Rasa senang membuat jantung Draven berdetak kencang karena gembira dan membuatnya tambah bersemangat.