[18:15 WIB] Kedai Kopi
Langit sore di atas kampus mulai berubah jingga. Beberapa mahasiswa masih berlalu-lalang di dekat halaman fakultas. Sebagian sibuk mengejar jadwal kuliah terakhir, dan sebagian lainnya bersiap untuk pulang.
Namun di warkop seberang kampus, waktu seolah berhenti bagi sembilan mahasiswa yang duduk melingkari dua meja kayu yang digabung menjadi satu.
Kepulan asap rokok dan aroma kopi tubruk menguap di udara. Sisa-sisa kelelahan setelah berminggu-minggu dihantam ujian semester masih jelas di wajah mereka.
Bahu mereka merosot, selagi mata mereka menatap lesu meja kayu yang kusam. Satu per satu helaan napas berat lolos, memecah keheningan yang menyesakkan.
Kemudian, Santoso—pria gondrong dengan berewok jarang—membanting buku catatan ke tengah meja. Gelas es teh di depannya bergetar, permukaannya riak-riak kecil yang nyaris tumpah.
“Anj*nk lah! Otak gue rasanya udah kayak kanebo kering, sumpah,” umpatnya, jari-jarinya meremas rambut gondrongnya dengan frustrasi.
“Santai dikit ngapa, San. Nggak usah ngegas,” tegur Pigi tenang. Ia mendorong bingkai kacamatanya yang melorot dengan jari telunjuk, lalu menarik bukunya menjauh sebelum terkena cipratan teh.
“Tau nih. Laper mah makan nasi, San. Jangan makan emosi,” sahut Putra dengan mulut penuh, tangannya baru saja mencomot pisang goreng terakhir di piring, mengabaikan tatapan Rozi yang sebenarnya juga mengincar gorengan itu.
“Bangkek lu, Put,” dengus Rozi, lalu menyemburkan asap rokoknya sembarangan ke udara, sebelum menjentikkan puntung itu ke lantai.
Adrian yang duduk di sebelahnya sontak menoleh. “Zi … puntungnya jangan dibuang sembarangan,” tegurnya pelan.
“Biarin, kan ada OB, hehe,” celetuk Rozi, tanpa merasa bersalah.
Adrian pun menghela napas kecil. Sementara di sudut lain, dinamika samar yang halus sedang tumbuh perlahan.