[14:50 WIB] Stasiun Kereta Api
Udara sore terasa lembap. Di bawah langit-langit tinggi stasiun bergaya kolonial, suara pengumuman keberangkatan bergema datar, memantul di antara pilar-pilar besi tua yang masih terawat.
Hiruk-pikuk penumpang yang berlalu-lalang seolah menjadi latar belakang yang samar bagi sembilan mahasiswa yang kini berkumpul di sudut peron.
Sembilan tas carrier berukuran masif berjajar rapi dekat pilar besi. Adrian berjongkok, sibuk mencentang daftar logistik di buku sakunya dengan dahi berkerut.
“Tenda dua, flysheet, nesting, kompor, gas kaleng ... aman,” gumam Adrian serius.
Di sebelahnya, Pigi ikut berjongkok. Meski tas carrier miliknya terlihat terlalu besar untuk tubuh kurusnya, Pigi adalah yang paling teliti soal urusan perbekalan.
“P3K, senter, baterai cadangan, sama thermal blanket udah gue cek dua kali, Dri. Aman terkendali,” lapornya sambil membenarkan kacamata.
“Sipp!” angguk Adrian puas. Namun ketenangannya tak berlangsung lama.
“Anj*nk! Berat amat?! Lu pada bawa batu apa gimana?!” umpat Santoso, yang baru saja mencoba mengangkat carrier-nya. Wajahnya memerah karena urat lehernya menegang.
“Bukan batu, San. Tapi nyawa,” sahut Putra santai. Ia menepuk perut buncitnya sambil tersenyum lebar. “Tas gue isinya sosis, kornet, mi instan, kaleng sarden, sama cokelat. Kalo nyasar, seenggaknya kita nggak bakal mati kelaparan.”
“Lu mau muncak apa mau buka warkop di atas, Ndut?” sindir Rozi meremehkan sambil mengunyah permen karet.
Ia merobek plastik camilan dengan gigi, mengunyahnya dengan bunyi decapan yang keras, lalu melepaskan bungkus perak itu begitu saja.
Plastik itu menari ditiup angin, tersangkut di antara kaki pilar ubin stasiun yang bersih. Adrian mendengus pelan sambil memijat pelipisnya. Ia tahu ceramah soal etika hanya berujung masuk telinga kanan dan keluar ke kiri.
Di tengah pengecekan barang itu, Julita akhirnya tiba dengan napas sedikit terengah. Rambutnya diikat asal, mengenakan jaket windbreaker tebal. Kehadirannya langsung menarik perhatian.
“Sorry, guys, gue telat. Tadi ojolnya muter-muter nyari jalan,” ucapnya dengan senyum manis yang santai.