[06:15 WIB] Base Camp Rohan
Setelah diguncang hebat selama satu jam lebih melewati jalan makadam yang membelah perkebunan warga dan hutan pinus, dua mobil jeep kanvas itu akhirnya merayap pelan memasuki pelataran luas beralas tanah padat.
Udara di Base Camp Rohan jauh lebih tipis dan menggigit. Kabut tipis sisa semalam masih menggantung malas di pucuk-pucuk pohon besar yang memagari area tersebut.
Di sisi kanan pelataran, berdiri megah sebuah balai desa tradisional berarsitektur Jawa, dan tepat di sebelahnya, terdapat sebuah ruangan kayu khusus yang difungsikan sebagai Pos Registrasi dan Ruang Pengarahan Pendaki.
Sembilan mahasiswa itu turun dari jeep satu per satu, meregangkan otot-otot yang kaku.
“Gila, pantat rasanya kayak pindah ke depan,” keluh Santoso sambil memijat punggung bawahnya.
“Udara di sini beda ya, guys,” gumam Julita, mengeratkan jaket windbreaker-nya. Ia menggosokkan kedua telapak tangan untuk mencari kehangatan.
Beni langsung mendekat dengan senyum andalannya. “Dingin, Ta? Mau gue pelukin dari belakang nggak biar anget?” godanya setengah berbisik.
Julita mendelik pelan, memukul bahu Beni dengan ringan. “Ogah.”
Di belakang mereka, Edo hanya menatap tajam, tangannya merogoh saku jaketnya dalam-dalam. Sementara itu, Adrian dan Pigi sudah berjalan mendahului rombongan menuju bangunan di sebelah balai desa.
“Pagi, Pak. Saya mau cek registrasi atas nama Adrian,” sapa Adrian sopan saat menghampiri meja administrasi di beranda Pos SIMAKSI.
Di balik meja itu, duduk seorang pria paruh baya berseragam ranger. Perawakannya tegap, dengan kumis tebal yang membingkai wajah tegasnya. Rambutnya masih legam, hanya diselingi satu-dua helai uban yang jarang. Matanya menyorot tajam namun memancarkan ketenangan khas orang lapangan. Namanya Pak Wandra.
“Berapa orang, Mas?” tanya Pak Wandra.
“Sembilan orang, Pak,” jawab Adrian singkat.
“Baik, tunggu sebentar ...”
Pak Wandra membuka buku besar di hadapannya. Jari telunjuknya menyusuri daftar nama. Namun, gerakannya tiba-tiba terhenti. Dahi Pak Wandra berkerut, menatap Adrian dengan raut ragu.
“Mas … kalian yakin mau tetap naik hari ini?” tanyanya pelan, nadanya menyiratkan peringatan tak kasat mata.
Adrian agak terkejut. “Maksudnya, Pak? Ada masalah sama berkasnya?”
“Bukan berkasnya,” geleng Pak Wandra, memajukan tubuhnya sedikit. “Hari ini sepi. Cuma rombongan kalian yang terdaftar berangkat. Pendaki lain jadwalnya baru besok pagi.”