[8:45 WIB] Jalur Menuju Pos Arsa
Hutan Vamana menyambut mereka dengan kanopi dedaunan yang begitu rapat, hingga terik matahari pagi hanya mampu menembus lewat celah-celah kecil seperti jarum cahaya. Suasana yang tadinya terik, perlahan berubah teduh, lembap, dan sunyi.
Hanya terdengar suara napas yang terengah-engah dan gesekan sepatu bot yang memecah keheningan hutan berlumut itu.
“Anj*nk! Ini tanjakan apa tangga kuli? Curam amat!” keluh Santoso dengan napas memburu. Keringat membanjiri dahi hingga ke lehernya.
Di barisan paling belakang, Pigi tampak paling menyedihkan. Langkahnya terseok-seok, wajahnya pucat, dan kacamatanya terus merosot karena peluh. Tas carrier di punggungnya seakan bertambah berat tiap kali ia memaksakan kakinya melangkah.
“Dri, berhenti bentar! Pigi udah pucet banget tuh,” tegur Julita yang berjalan di tengah barisan. Ia sendiri mulai mengipasi wajahnya dengan topi rimba, napasnya ikut putus-putus.
Adrian yang bertindak sebagai leader segera mengangkat tangan kanannya. “Oke, break sepuluh menit! Jangan duduk selonjoran! Cari akar atau batang pohon. Minum secukupnya, jangan langsung habisin!”
Mendengar komando itu, formasi mereka langsung buyar. Santoso menjatuhkan diri di atas akar pohon raksasa yang menonjol. Di tengah kelelahan itu, Beni masih menyempatkan diri bermanuver. Ia dengan sigap mengeluarkan botol air mineral yang baru ia buka dan menyodorkannya tepat ke hadapan Julita.
“Nih, Ta. Minum. Sekalian mau gue kipasin nggak?” tawar Beni dengan senyum menawan, sengaja memangkas jarak berdirinya agar sangat dekat dengan gadis itu.
Julita tertawa kecil, tawa renyah yang biasa ia gunakan untuk menetralisir kecanggungan. “Ng-ngak, Ben. Punya gue masih banyak kok,” tolaknya halus.
Secara refleks, Julita memundurkan kakinya setengah langkah untuk menciptakan jarak, lalu memutar tubuhnya dan memilih duduk bersandar di sebuah batang pohon tumbang—tepat di sebelah Edo yang sedang minum.
Bahu Julita bahkan sempat bersinggungan ringan dengan lengan Edo saat ia mendaratkan punggungnya. Sebuah isyarat bawah sadar bahwa ia mencari “ruang aman”. Namun sayangnya, Edo gagal membaca gestur itu.
Mata Edo sudah terlanjur dikuasai oleh kabut dengki. Alih-alih menyadari bahwa Julita baru saja menolak Beni dan memilih duduk di dekatnya, Edo justru menatap tajam ke arah Beni yang masih tersenyum sok pahlawan.