VAMANA

Hazsef
Chapter #5

Perjalanan

​[12:45 WIB] Reruntuhan Candi

Tiga puluh menit berjalan meninggalkan lokasi peristirahatan sebelumnya, jalur setapak yang mereka lalui perlahan melebar, menuntun rombongan itu ke sebuah area terbuka kecil di tengah rimbunnya pohon pinus.

​Di sana, berdiri sebuah struktur batu menyerupai candi kecil atau petilasan kuno. Sebagian besar bangunannya sudah runtuh dan tertutup lumut tebal, namun anehnya, pelataran tanah di sekitarnya tampak sangat bersih, seolah baru saja disapu.

​Tepat di atas sebuah batu datar di depan reruntuhan itu, tergeletak sebuah nampan anyaman bambu. Di atasnya tersaji aneka jajanan pasar yang tampak masih baru, dua gelas kopi hitam, sebuah kelapa muda yang sudah dilubangi atasnya, dan sepiring tanah liat berisi nasi putih lengkap dengan ayam bakar utuh yang menggiurkan.

​Langkah kesembilan mahasiswa itu terhenti.

​“Wah, jackpot nih. Ada catering nyasar,” celetuk Indra, memecah kesunyian dengan nada bercanda. Ia maju selangkah, mengamati sesajen itu lekat-lekat.

​“Jangan macem-macem, Ndra. Ingat kata Pak Wandra,” peringat Pigi langsung, suaranya sedikit gemetar.

“Santai aja kali, Gi,” ​Indra tertawa remeh. “Lagian gue juga ogah makan. Bukan takut kualat, tapi jorok anj*nk! Di bawah kan banyak warga miara anjing buat jaga ladang, siapa tahu ... ada satu-dua yang jilat?”

​Namun, di saat yang lain menjaga jarak, Putra justru melangkah maju dengan mata berbinar. Roti cokelat yang ia makan sebelumnya seolah belum cukup mengganjal perut buncitnya. Tanpa ragu, tangannya langsung meraih kelapa muda di atas nampan itu.

​“Put, lu ngapain?!” sentak Adrian kaget, matanya melotot tak percaya.

​“Kalo lu pada nggak mau, buat gue aja,” balas Putra santai. Ia menenggak air kelapa itu dengan rakus. “Haaah ... seger bener. Kelapa asli emang beda.”

​Belum hilang rasa terkejut teman-temannya, Putra beralih mencomot gelas kopi hitam. Ia menyesapnya sedikit, lalu meringis. “Pahit gila, nggak pake gula ini mah.”

​Tak berhenti di situ, Putra kembali meneguk air kelapa untuk menetralisir rasa pahit. Kemudian ia dengan cueknya merobek paha ayam bakar dari piring tanah liat, lalu memakannya bersama kepalan nasi putih. Bumbu kecap ayam itu membekas di sudut bibirnya.

Terakhir, ia mengambil beberapa bungkus jajanan pasar bernuansa merah-putih dari nampan bambu, lalu menjejalkannya ke dalam saku jaket tebalnya.

​“Buat camilan ntar malem. Lumayan ngirit bekal,” gumamnya dengan mulut penuh.

​Semua orang melihat Putra dengan tatapan tak percaya. Adrian memijat pelipisnya keras-keras, merasa gagal sebagai pemimpin rombongan. Julita dan Pigi hanya bisa tersenyum tegang, bulu kuduk mereka meremang melihat pelanggaran sefatal itu dilakukan tepat di depan mata.

“Wah, emang anj*nk lu, Put!” komentar Santoso sambil menggeleng heran.

“Lah? Yakin? Bukannya B2?” sahut Indra, ikut menyendir Putra sambil tersenyum sarkas.

“Anj*nk lu, bener juga! Wakakaka!” puji Santoso, lalu terbahak-bahak.

​“Biarin, yang penting kenyang,” balas Putra cuek merespons tatapan teman-temannya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, lalu kembali memanggul carrier-nya.

Lihat selengkapnya