[22:00 WIB] Sabana Varuna
Setelah menempuh perjalanan menyiksa selama lima jam lebih menembus gulita hutan Vamana, barisan pepohonan yang merapat itu akhirnya terkuak.
Langkah kaki Pigi yang gemetar akhirnya terhenti. Kesembilan mahasiswa itu berdiri terpaku, terengah-engah, dengan lutut yang nyaris kehabisan pelumas.
Hamparan sabana yang luas menyambut mereka di bawah pendar cahaya bulan keperakan. Angin malam berembus kencang, menyapu padang rumput setinggi pinggang hingga meliuk-liuk seperti gelombang lautan di tengah kegelapan.
“Tuh kan ... apa gue bilang. Worth it kan kita lanjut jalan?” gumam Indra dengan napas ngos-ngosan, bibirnya memucat kedinginan, namun ia masih sempat tersenyum angkuh.
Adrian tak menjawab. Insting survival-nya langsung mengambil alih. “Kita buka tenda di sini, mepet sama batas pohon di sana biar flysheet nggak robek kena angin malam.”
Dengan sisa-sisa tenaga, mereka mulai membagi tugas. Dua buah tenda dome berkapasitas lima orang akhirnya berdiri berdampingan, berbatasan langsung dengan gelapnya hutan di belakang mereka, dan menghadap lurus ke arah sabana yang terbuka.
Karena tubuh Putra yang memakan banyak tempat, formasi tidur pun dirombak. Tenda pertama diisi oleh Adrian, Pigi, Indra, Rozi, dan Santoso. Sementara tenda kedua diisi oleh Putra, Beni, Edo, dan Julita.
Setelah mengganti pakaian yang basah oleh keringat dengan jaket tebal berlapis-lapis, mereka berkumpul sejenak di vestibule—teras tenda—untuk menyeduh air panas, memasak mi instan, dan membuat kopi. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat mereka makan dengan rakus dan cepat.
Di tengah aktivitas itu, Adrian mengambil air dari botolnya untuk membasuh wajah, tangan, dan kakinya.
“Udah masuk waktu Isya dari tadi nih,” ujar Adrian sambil menatap teman-temannya yang sedang sibuk menyalakan rokok dan mengunyah makanan. “Ayo jamaah dulu, dijamak sekalian Magribnya. Biar tenang kita tidurnya.”
Hening sejenak. Santoso mengibas-ngibaskan tangannya malas. “Duluan aja, Dri. Dingin banget gila, airnya kayak es batu. Ntar aja deh gue, mau ngerokok dulu manasin badan.”
“Gue pass dulu, Dri. Punggung gue mau copot rasanya,” timpal Edo, langsung menyusup masuk ke dalam tenda kedua. Beni dan Indra pun hanya memberikan alasan serupa, terlalu lelah dan malas menyentuh air dingin. Julita juga beralasan sedang berhalangan.
Pada akhirnya, hanya Pigi yang perlahan bangkit, menahan rasa sakit di kakinya untuk mengambil air wudu. Malam itu, di atas matras tipis yang digelar di sisi tenda, beralaskan dinginnya tanah Vamana, hanya Adrian dan Pigi yang menunaikan kewajiban mereka.